30 September 2008

Sholat 'Iedul Fitri 1429 H


Insya Allah hari Rabu, tanggal 1 Oktober 2008, DKM Bachir Ahmad akan menyelenggarakan Sholat 'Iedul Fitri 1429 H. Sholat akan mengambil tempat di halaman Masjid dan dimulai Insya Allah pada pukul 06 30 WIB.

Adapun akan bertindak sebagai Khatib dan Imam adalah Imam Masjid Bachir Ahmad, Ustadz Ngatrichan.

Bagi kaum muslimin yang berniat bergabung dengan kami dalam mendirikan sholat 'Ied tersebut, kami harapkan dapat hadir paling lambat pada pukul 06 25 WIB.

Dalam kesempatan ini pula kami DKM Masjid Bachir Ahmad mengucapkan "Taqobalallohu Minna wa Minkum" Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah dan amal sholih kita. Aamiin.

29 September 2008

Rukyat 1 Syawwal 1429 H

Tim Rukyat Masjid Jami' Bachir Ahmad pada tanggal 29 Ramadhan 1429 H atau 29 September 2008 M, telah melakukan upaya pemantauan Ru'yatul Hilal di sekitar Bandara Soekarno Hatta, tepatnya di depan Puskesmas Benda, mulai dari pukul 17 20 - 17 50. Akan tetapi mulai pukul 17 30 pandangan mata kami ke arah matahari terhalang kabut/awan yang sangat tebal.

Pemerintah, melalui Departemen Agama, melakukan pemantauan pada 7 titik hilalyang tersebar di seluruh Indonesia. Berdasarkan hasil sementara sidang isbat yang berlangsung pada Senin (29/9) di Departemen Agama, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, dari semua lokasi yang dipantau tidak terlihat adanya hilal atau bulan. 

Karena itu hitungan bulan Ramadan 1429 H akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga hari raya 'Idul Fitri akan jatuh pada 1 Oktober 2008.

Seperti di NTT, pengamat di sana tidak bisa melihat hilal meski cuaca sangat bagus. Hingga matahari terbenam, alat teropong bulan tidak bisa melihat posisi hilal.

Sementara di daerah Aceh di Lok Ngah, yang cuacanya tertutup mendung tebal, peneropong tidak bisa melihat hilal. Begitu juga 5 daerah yang lain, seperti Bosscha Lembang Bandung, Masjid Agung Semarang, Condrodipo Gresik, Tanjung Kodok Lamongan, dan Mal GTC Tanjung Bunga Makassar.

Selain disebabkan cuaca buruk, di beberapa lokasi hilal tidak bisa dilihat karena posisi hilal sangat dekat dengan matahari. Hal ini terjadi di Bosscha Lembang Bandung, karena posisi bulan di atas matahari sehingga bulan masih tertutup cahaya matahari. Demikian juga di daerah Tanjung Kodok Lamongan.

19 September 2008

Menghidupkan Malam Ramadhan




 Menghidupkan malam-malam bulan Ramadlan dengan berbagai macam ibadah adalah perkara yang sangat dianjurkan. Diantaranya adalah shalat tarawih. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pernah mengerjakannya di masjid dan diikuti para shahabat beliau di belakang beliau. Tatkala sudah terlalu banyak orang yang mengikuti shalat tersebut di belakang beliau, beliau masuk ke rumahnya dan tidak mengerjakannya di masjid. Hal tersebut beliau lakukan karena khawatir shalat tarawih diwajibkan atas mereka karena pada masa itu wahyu masih turun. Diterangkan dalam hadits Abu Hurairah radliyallahu `anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selalu memberi semangat untuk menghidupkan (shalat/ibadah) bulan Ramadlan tanpa mewajibkannya. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa menghidupkan bulan Ramadlan dengan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lewat." Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam wafat dalam keadaan meninggalkan shalat tarawih berjamaah. Hal ini berlangsung sampai kekhilafahan Abu Bakr serta pada awal kehilafahan Umar radliyallahu `anhu." (HR. Jama'ah ) Juga hadits `Amr bin Murah Al-Juhani, beliau berkata: "Seseorang dari Qadlafah datang kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, kemudian berkata: `Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, aku shalat yang lima, puasa di bulan Ramadlan, menghidupkan Ramadlan dan membayar zakat?' Maka jawab Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: `Barangsiapa mati atas yang demikian, maka dia termasuk orang-orang yang shidiq dan syahid." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban ) Kedua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan menghidupkan malam bulan Ramadlan dengan berbagai ibadah di antaranya shalat tarawih berjamaah.

Syiarkan Lailatul Qodar




Pada suatu hari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bercerita kepada para sahabatnya tentang pejuang dari Bani Israil yang bernama Sam’un. Selama 1000 bulan atau delapan puluh tiga tahun, ia tidak pernah meletakkan senjata atau beristirahat dari perang Fii Sabilillah. Ia hanya berperang dan berperang demi menegakkan agama Allah tanpa mengenal rasa lelah. 

Para sahabat ketika mendengar cerita tersebut, mereka merasa kecil hati dan merasa iri dengan amal ibadah dan perjuangan orang tersebut. Mereka ingin melakukan amal ibadah dan perjuangan yang sedemikian rupa, tapi bagaimana mungkin untuk melakukannya sedang umur kehidupan mereka jarang yang mencapai usia lebih dari enam puluh atau tujuh puluh tahun. Di dalam hadist disebutkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam: “Usia ummatku sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun”. karena itulah mereka bersedih dan kecil hati.
 
Ketika para sahabat sedang berfikir dan merenungkan tentang hal itu, dimana mereka merasa kecil hati karena tidak mungkin berbuat hal yang telah diperbuat oleh orang Bani Israil yang telah disebutkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka datanglah malaikat Jibril kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam membawa wahyu dan kabar kembira kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. 

Berkata malaikat Jibril Alaihis Salaam: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepadamu ya Rasulullah surat Al Qadr, dimana di dalamnya terdapat kabar gembira untukmu dan ummatmu, dimana Allah menurunkan malam Lailatul Qadr, dimana orang yang beramal pada malam Lailatul Qadr mendapatkan pahala lebih baik dan lebih besar daridari pada seribu bulan. Maka amal ibadah yang di kerjakan ummatmu pada malam Lailatul Qadr lebih baik dari pada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang beribadah selama delapan puluh tahun”. Lalu malaikat jibril membacakan surat Al Qadr yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemulian (Lailatul Qadr).” “Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan”. “malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan”. Pada malam itu turun para malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”. “Malam itu penuh kesejahtraan sampai terbit fajar”. Maka dengan turunnya wahyu tersebut yang penuh dengan kabar gembira, Rasulullah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya merasa senang dan gembira dengan adanya Lailatul Qadr.

17 September 2008

I'tikaf di Masjid Bachir Ahmad



Dewan Kemakmuran Masjid Bachir Ahmad, Insya Allah akan melayani para jama'ah dan kaum muslimin yang berniat melakukan i'tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan 1429 H. Para jama'ah insya Allah akan mulai memasuki masjid pada hari Sabtu, 20 Ramadhan 1429 H bertepatan tanggal 20 Septemebr 2008.
Beberapa diantaranya mungkin akan datang lebih awal (menjelang shalat Ashar), untuk mengikuti pengajian rutin setiap hari Sabtu, ba'da ashar hingga maghrib.

Acara ta'lim biasa dilaksanakan tengah malam pukul 00 00 s/d pkl 03 30 WIB, setelah shalat 'Isya dan Tarawih berjamaah (mulai pkl. 22 00 WIB)

( Pedoman Ringkas Ibadah I'tikaf )


27 Mei 2008

Penjelasan Millah Ibrahim AS

PENULIS
SYAIKH ABU MUHAMMAD ‘ASHIM AL MAQDISIY


ALIH BAHASA
ABU SULAIMAN AMAN ABDURRAHMAN


Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman tentang Millah Ibrahim ‘alaihis salam.

وَمَن يَرْغَبْ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي اْلأَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah, 2: 130)

dan Dia Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman juga seraya mengkhithabi Nabi-Nya Muhammad,
ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَاكَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif". dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (QS. An Nahl, 16: 123)

Dengan ungkapan yang terang dan jelas ini, Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala menjelaskan kepada kita minhaj dan jalan. Jalan yang benar serta minhaj yang lurus adalah Millah Ibrahim, tidak ada kesamaran dan kejanggalan dalam hal itu. Dan siapa yang tidak menyukai jalan ini dengan dalih maslahat dakwah atau bahwa meniti jalan tersebut bisa mendatangkan berbagai macam fitnah dan bencana atas kaum muslimin atau alasan-alasan kosong lainnya yang dibisikkan oleh syaithan pada jiwa-jiwa yang lemah imannya, maka dia itu dungu, terperdaya lagi menduga bahwa dirinya lebih mengetahui akan metode dakwah daripada Ibrahim ‘Alaihis Salam yang telah disucikan Allah dengan firman-Nya:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.” (QS. Al Anbiya, 21: 51)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala

وَمَن يَرْغَبْ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي اْلأَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah, 2: 130)

Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah mensucikan dakwahnya di hadapan kita dan memerintahkan penutup para Nabi dan rasul agar mengikutinya, serta Dia menjadikan safaahah (dungu/bodoh sekali) sebagai sifat bagi setiap orang yang tidak suka terhadap jalan dan manhajnya. Sedangkan Millah Ibrahim adalah:
● Memurnikan ibadah kepada Allah saja dengan segala makna yang di kandung oleh kata ibadah.(5)
● Berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.
Al Imam Asy Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: Pokok dien Al Islam dan kaidahnya ada dua:
Pertama: - Perintah ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya
- Dorongan kuat atas hal itu
- Melakukan loyalitas di dalamnya
- Dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya
Kedua : - Peringatan dari penyekutuan dalam ibadah kepada Allah
- Kecaman keras terhadap hal itu
- Melakukan permusuhan di dalamnya
- Dan mengkafirkan orang yang melakukannya
Dan inilah tauhid yang didakwahkan oleh para rasul ‘Alaihis Salam seluruhnya … dan inilah makna laa ilaaha illallah. Yaitu pemurnian, tauhid, dan pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah serta loyalitas terhadap dien dan para wali-wali-Nya, dan kufur serta bara’ah dari segala yang diibadahi selain-Nya dan juga memusuhi musuh-musuh-Nya.
Ini adalah tauhid i’tiqadiy dan amaliy dalam satu waktu. Surat Al Ikhlas adalah dalil akan tauhid I’tiqadiy sedangkan surat Al Kafirun dalil akan tauhid ‘amaliy. Oleh sebab itu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sering membaca dua surat ini dan selalu kontinyu dalam sunat fajar dan yang lainnya karena sangat penting keduanya.
PERINGATAN PERTAMA:
Ada yang mengira bahwa Millah Ibrahim ini terealisasi pada zaman kita ini dengan cara mempelajari tauhid, dan mengetahui bagian-bagian dan macam-macamnya yang tiga dengan sekedar ma’rifah nadhariyah (teoritis)…. Terus diam dari (mensikapi) ahlul bathil dan tidak menyatakan serta menampakkan bara’ah dari kebatilan mereka.
Maka terhadap macam orang seperti itu kami katakan: Seandainya Millah Ibrahim adalah seperti itu, tentulah kaumnya tidak melemparkan beliau ke dalam api karenanya, bahkan seandainya ia bermudahanah terhadap mereka, mendiamkan sebagian kebatilan mereka, tidak menjelek-jelekkan tuhan-tuhan mereka, tidak menyatakan permusuhan terhadap mereka, dan mencukupkan dengan tauhid nadhariy yang ia kaji bersama pengikut-pengikutnya dengan pengkajian yang tidak keluar pada waqi’ ‘amali (realita praktek) yang menjelma dalam bentuk al wala, al bara’, cinta, benci, memusuhi, dan menjauh karena Allah, bisa jadi bila beliau melakukan hal itu mereka membukakan baginya semua pintu, bahkan bisa saja mereka mendirikan baginya sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga seperti pada zaman kita yang di dalamnya dipelajari tauhid nadhariy ini… dan bahkan bisa saja mereka itu memasang di atasnya papan nama yang besar dan mereka menamakannya: Madrasah atau Ma’had tauhid, fakultas dakwah dan ushuluddien,…. dll. Ini semua tidak membahayakan mereka dan tidak mempengaruhi mereka selama hal itu tidak keluar pada realita dan praktek. Dan seandainya universitas-universitas, sekolah-sekolah, dan fakultas-fakultas ini mengeluarkan bagi mereka ribuan skripsi, karya ilmiah dan risalah Magister dan Doktoral tentang ikhlas, tauhid dan dakwah, tentulah mereka tidak mengingkari hal itu, bahkan justeru mereka memberikan ucapan selamat dan memberikan hadiah-hadiah, ijazah-ijazah dan gelar-gelar yang besar buat para peraihnya … selama hal itu tidak menyinggung kebatilan, keadaan dan realita mereka, serta selama tetap pada keadaannya yang terkaburkan.
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman berkata dalam Ad Durar As Saniyyah: “Tidak terbayang -bahwa seseorang- mengetahui tauhid dan mengamalkannya namun tidak memusuhi para pelaku syirik, sedangkan orang yang tidak memusuhi mereka maka tidak dikatakan kepadanya (bahwa) ia mengetahui tauhid dan mengamalkannya,” (Juz Al Jihad hal: 167)
Dan begitu juga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam seandainya saja beliau diam di permulaan dakwahnya dari menjelek-jelekkan pola pikir Quraisy, mencela tuhan-tuhan mereka dan memburuk-burukannya dan seandainya beliau –dan ini tidak mungkin- menyembunyikan ayat-ayat yang di dalamnya terdapat celaan akan apa-apa yang mereka ibadati, seperti latta, uzza dan manat… dan (menyembunyikan) ayat-ayat yang menyinggung Abu Lahab, Al Walid dan yang lainnya. Dan begitu juga ayat-ayat tentang bara’ah dari mereka, dien mereka dan ma’budat mereka –dan ini alangkah banyaknya seperti surat Al Kafirun dan yang lainnya– seandainya beliau lakukan hal itu –dan tidak mungkin- tentulah mereka mau duduk di majelis beliau, memuliakannya serta mereka mendekatkan beliau dan tentu mereka tak akan meletakkan isi perut unta di atas kepala beliau saat sedang sujud serta tidak pernah terjadi apa yang telah terjadi menimpa beliau berupa penindasan mereka seperti apa yang dijabarkan dan dituturkan dalam khabar yang tsabit dari sirahnya. Dan tentu beliau tidak butuh terhadap hijrah, capek, lelah dan penderitaan serta tentu beliau dan para sahabatnya bisa menetap di rumah dan tanah air mereka dengan aman. Jadi masalah loyal pada dienullah dan pemeluknya serta memusuhi kebatilan dan para pengusungnya adalah telah difardlukan atas kaum muslimin di fajar dakwah sebelum difardlukannya shalat, zakat, shaum dan haji. Dan karena sebabnya bukan karena sebab lainnya terjadilah penyiksaan, penindasan dan cobaan.
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq dalam risalahnya yang ada dalam Ad Durar As Saniyyah berkata: “Hendaklah orang yang berakal mengamati dan hendaklah orang yang jujur pada diri sendiri mencari tentang sebab yang mendorong orang quraisy untuk mengusir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya dari Mekkah padahal ia adalah tempat yang paling mulia. Sesungguhnya sudah diketahui bahwa mereka tidak mengusirnya kecuali setelah kaum mukminin terang-terangan di hadapan mereka mencela dien mereka dan kesesatan nenek moyangnya. Kemudian mereka ingin agar beliau menghentikan hal itu serta mereka mengancam beliau dan para sahabatnya dengan pengusiran. Para sahabat mengadukan kepada beliau dahsyatnya penindasan orang-orang musyrik terhadap mereka, maka beliau memerintahkan mereka agar bersabar dan bercermin dengan orang-orang dahulu yang ditindas. Beliau tidak mengatakan kepada mereka: “Tinggalkan celaan terhadap dien kaum musyrikin dan hinaan terhadap ajaran mereka”, Beliau dan para sahabatnya memilih keluar dan meninggalkan tanah airnya padahal ia adalah tempat paling mulia di muka bumi ini”.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada bagi kalian pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta ia banyak mengingat Allah.” (QS. Al Ahzab, 33: 21) dari Juz Al Jihad hal 199.

Begitulah. Sesungguhnya para thaghut di setiap masa dan tempat, mereka tidak menampakkan sikap ridla terhadap Islam atau bersikap lembut damai padanya, dan mereka tidak mengadakan muktamar-muktamar tentang Islam dan menyebarkannya dalam buku-buku dan majalah-majalah, serta mereka tidak mendirikan lembaga-lembaga dan universitas-universitas Islam kecuali bila itu adalah dien yang picak, pincang, terputus kedua sayapnya lagi jauh dari realita mereka dan dari muwalatul mu’minin dan bara’ dari musuh-musuh dien ini, penampakkan permusuhan terhadap mereka, tuhan-tuhan mereka dan manhaj-manhaj mereka yang batil.
Dan kami saksikan hal ini sangat jelas di negara yang bernama Saudi. Sesungguhnya negara ini menipu manusia dengan cara mensponsori tauhid, buku-buku tauhid, dan dengan cara memberikan loyalitas bahkan dorongan terhadap para ulama untuk memeranginya (syirik) kuburan, shufiyyah, ajimat, pelet (asihan), pohon dan batu-batu, (yang dikeramatkan) serta yang lainnya dari hal-hal yang tidak dia khawatirkan dan tidak merugikannya atau mempengaruhi pada politik dalam dan luar negaranya. Dan selama tauhid yang terpilah-pilah lagi timpang ini jauh dari para sultan dan tahta-tahta mereka yang kafir itu maka tauhid semacam ini mendapatkan dukungan, bantuan dan sponsor dari mereka. karena kalau tidak demikian, maka mana tulisan-tulisan Juhaiman dan yang serupa dengannya rahimahullah yang penuh dan sarat dengan tauhid…??? Kenapa tulisan-tulisan itu tidak mendapatkan dukungan dan sponsor pemerintah…??? Padahal beliau itu tidak mengkafirkan pemerintah ini dalam tulisan-tulisannya itu… atau mungkin karena itu adalah tauhid yang menyelesihi selera dan keinginan para thaghut (Saudi), berbicara tentang politik serta menyinggung masalah Al Wala, Al Bara’, Bai’at dan Imarah. Silakan rujuk ucapannya dalam Mukhtashar Risalah Al Amru Bil Ma’ruf Wan Nahyu ‘Anil Munkar dari hal 100 hingga 110 dari Ar Rasail As Sab’u. Sungguh beliau mengetahui benar masalah ini rahimahullah.
Asy Syaikh Al ‘Allamah Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah berkata dalam kitabnya Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin wa Ahlil Isyrak: “Sesungguhnya banyak orang mengira bahwa bila ia mampu untuk mengucapkan dua kalimah syahadat, melakukan shalat lima waktu dan tidak dihalangi dari mendatangi masjid, berarti ia telah menampakkan diennya meskipun ia hidup di tengah kaum musyrikin atau di tempat-tempat kaum murtaddien. Sungguh (orang yang mengira) itu telah keliru dalam hal itu dengan kekeliruan yang paling buruk. Dan ketahuilah sesungguhnya kekafiran itu bermacam-macam dan beraneka ragam dengan beragamnya mukaffirat (hal-hal yang membuat kafir). Setiap kelompok dari kelompok-kelompok kekafiran memiliki macam kekafiran yang masyhur darinya, dan orang muslim tidak dikatakan telah menampakkan diennya sehingga ia menyelisihi setiap kelompok itu dengan apa yang masyhur darinya dan terang-terangan menyatakan permusuhan terhadapnya serta bara’ darinya.”
Dan beliau berkata juga dalam Ad Durar As Saniyyah: “Sedangkan idhharud dien adalah mengkafirkan mereka, mencela ajaran mereka, menjelek-jelekkan mereka, bara’ dari mereka, berhati-hati dari mencintai mereka dan cenderung kepadanya, dan menjauhi mereka. Dan idhharud dien itu bukan hanya shalat.” (dari Juz Al Jihad: 196)
Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman berkata dalam Diwan Uqud Al Jawahir Al Mundladah Al Hisan hal 76-77:
Idhharud dien ini adalah terang-terangan mengkafirkan mereka…
Karena mereka adalah golongan orang-orang kafir…
Permusuhan yang nyata dan kebencian yang nampak…
Wahai orang-orang yang berakal, apa kalian punya pikiran…
Ini, dan hati tidak cukup kebenciannya…
Dan cinta darinya, serta apa tolak ukurnya…
Tolak ukurnya adalah engkau mengatakannya…
Terang-terangan dan tegas-tegas terhadap mereka lagi menampilkannya…
Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman berkata dalam Juz Al Jihad dari kitab Ad Durar As Saniyyah hal 141: “Dan klaim orang yang Allah butakan bashirahnya bahwa idhharud dien adalah mereka (musyrikin) tidak melarang orang untuk beribadah atau belajar, ini adalah klaim yang batil. Klaimnya tertolak secara akal dan syari’at karena kalau demikian maka hendaklah senang orang yang hidup di negeri Nashara, Majusi dan India dengan hukum yang bathil itu, karena shalat, adzan dan pengajian ada di negeri-negeri mereka…”
Dan semoga Allah merahmati orang yang mengatakan:
Mereka mengira bahwa dien itu adalah
(Ucapan) labbaika di padang pasir…
Shalat dan diam dari penguasa…
Berdamai dan berbaur dengan orang yang telah mencela dien ini…
Sedang dien ini tidak lain adalah cinta, benci dan loyalitas…
Begitu juga bara dari setiap orang sesat dan berdosa…
Abul Wafa Ibnu Uqaid rahimahullah berkata: “Bila engkau ingin melihat posisi Islam di tengah manusia zaman sekarang, maka jangan kau lihat berjubelnya mereka di pintu-pintu masjid dan gemuruh mereka dengan labbaika, namun lihatlah keselarasan mereka terhadap musuh-musuh syari’at. Maka berlindunglah… berlindunglah pada benteng dien ini dan berpeganglah pada tali Allah yang kokoh, serta cepatlah bergabung dengan wali-wali-Nya al mukminin, dan hati-hatilah dari musuh-musuh-Nya yang selalu menyelisihi. Sungguh sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala yang paling utama adalah membenci orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dan menjihadinya dengan tangan, lisan dan hati sesuai kemampuan.” (Ad Durar, Juz Al Jihad, hal: 238)
PERINGATAN KEDUA:
Kebalikan dari bara’ah dari syirik dan para pelakunya… di sana juga ada (loyalitas pada dienullah dan para auliyanya, membela mereka, mendukungnya, memberikan nasehat buat mereka, menampakkan dan menyatakan terang-terangan akan hal itu) agar hati mereka selaras, dan barisan-barisan menjadi rapat. Meskipun kami menegur keras saudara-saudara kami al muwahiddin yang menyimpang dari kebenaran, dan bagaimanapun kami bersikap keras dalam menasehati mereka dan mengkritik jalan-jalan mereka yang menyelisihi jalan para Nabi. Maka orang muslim bagi muslim lainnya sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam adalah bagaikan dua tangan yang satu mencuci yang lainnya, dan bisa saja penyucian kotoran ini terkadang membutuhkan pada sikap sedikit keras yang berujung baik terpuji, karena yang dimaksud dibaliknya adalah keutuhan tangan dan kebersihannya. Dan kami tidak membolehkan sama sekali bersikap bara’ sepenuhnya dari mereka, karena orang muslim memiliki atas saudaranya hak loyalitas yang tidak bisa terlepas kecuali dengan kemurtadan dan keluar dari lingkungan Islam…. Dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah menilai besar status hak ini. Dia berfirman:

إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
Artinya: “Bila kamu tidak melakukannya maka terjadilah fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Al Anfal, 8: 73)

Orang muslim yang menyimpang hanya di bara’ dari kebatilannya, bid’ahnya dan penyimpangannya saja dengan tetap menjaga pokok loyalitas. Tidaklah engkau lihat bahwa hukum memerangi para bughat (pembangkang) dan yang semisalnya berbeda dengan hukum-hukum memerangi murtaddin. Dan kami tidak akan membuat mata para thaghut berbinar-binar dan senang dengan sikap sebaliknya. Sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang-orang yang mengakui Islam dari kalangan yang sudah rusak pada mereka timbangan al wala dan al bara’ pada masa sekarang. Mereka sangat bara’ dan menjelek-jelekkan orang-orang yang menyelisihi mereka dari kalangan muwahiddin, dan mentahdzir (menghati-hatikan orang) dari (mendekati) mereka, bahkan mentahdzir dari banyak kebenaran yang ada pada mereka, dan bahkan dilakukan lewat lembaran koran-koran yang busuk yang memusuhi Islam dan kaum muslimin. Dan jangan tanya tindakan itu mendorong orang-orang dan para penguasa untuk menuduh mereka dari dakwahnya, sampai-sampai banyak para dai itu ikut serta dengan para penguasa dalam menghabisi mereka dan dakwahnya dengan cara melancarkan tuduhan-tuduhan yang tidak baik terhadap mereka atau menghaturkan fatwa-fatwa kepada thaghut untuk menumpas mereka, seperti peringatan mengatakan tentang muwahidien: bughat atau khawarij atau (mereka itu) lebih berbahaya bagi Islam daripada Yahudi dan Nasrani, serta tuduhan lainnya, dan saya tahu banyak di antara kalangan yang gembira dengan tertangkapnya orang-orang yang menyelisihi mereka dari kalangan muslimin ditangan para thaghut, dan mereka mengatakan: “Rasain kamu”, “Bagus biar mereka dihabisin” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang bisa jadi menjerumuskan orangnya ke dalam jahannam (melayang-layang) tujuh puluh tahun tanpa dia sadari dan ambil peduli saat melontarkannya .
Ketahuilah sesungguhnya diantara ciri khusus Millah Ibrahim dan diantara hal terpenting yang mana kami melihat keumuman para du’at zaman kita ini menyepelekannya, bahkan mayoritas mereka meninggalkan dan mematikannya:
- Penampakan bara’ah dari para pelaku syirik dan ma’buudat mereka yang batil.
- Menyatakan terang-terangan sikap kafir terhadap mereka, tuhan-tuhannya, falsafah-falsafahnya, undang-undangnya serta hukum-hukumnya yang syirik.
- Dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap mereka yang kufur sampai mereka kembali kepada Allah, meninggalkan hal itu semuanya, berlepas diri darinya dan kafir terhadapnya.

Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَآؤُا مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إْلاَّ قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ ِلأَبِيهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآأَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِن شَىْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,” (QS. Al Mumtahanah, 60: 4)

Al’Alamah Ibnul Quyyim rahimahullah berkata: “Tatkala Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala melarang kaum muslimin dari loyalitas terhadap orang-orang kafir, maka hal itu menuntut untuk memusuhi mereka, bara’ darinya dan terang-terangan memusuhi mereka disetiap keadaan.” (Badai-ul Fawaid 3/69)
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah berkata: “Dan firman-Nya ”وبدا“ yaitu nampak dan jelas. Perhatikan penyebutan ‘adawah (permusuhan) mendahului baghdhaa’ (kebencian), karena yang pertama lebih penting dari yang kedua. Sesungguhnya orang terkadang membenci kaum musyrikin namun tidak memusuhinya, maka ia tidak mendatangkan apa yang menjadi kewajibannya sehingga ada darinya permusuhan dan kebencian. Dan juga permusuhan serta kebencian ini harus nampak jelas lagi terang. Dan ketahuilah meskipun sesungguhnya kebencian itu berkaitan dengan hati, maka sesungguhnya ini tidak bermanfaat sampai nampak pengaruhnya serta jelas tanda-tandanya. Sedangkan itu tidak menjadi seperti demikian sehingga disertai dengan permusuhan dan pemutusan. Maka dengan demikian permusuhan dan kebencian itu menjadi nampak“ (Dari kitab Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatul Murtaddin Wa Ahlil Isyrak)
Syaikh Ishak Ibnu Abdurrahman berkata: “Dan kebencian dengan hati ini tidak cukup, akan tetapi harus menampakkan permusuhan dan kebencian - dan beliau menuturkan ayat Al-Mumtahanah yang lalu, terus berkata: - coba lihatlah penjelasan yang tidak ada penjelasan sesudahnya, dimana Dia berkata: (nampak diantara kami) yaitu jelas ini adalah idhharud dien, maka wajib terang-terangan menyatakan permusuhan dan mengkafirkan mereka secara terang-terangan serta memisahkan diri dengan badan. Sedangkan makna ‘adawah (permusuhan) keberadaan kamu di suatu lembah dan lawan di lembah yang lain, sebagaimana bahwa asal bara’ah adalah pemutusan (hubungan) dengan hati, lisan dan badan. Hati orang mukmin tidak (mungkin) kosong dari (sikap) memusuhi orang kafir. Dan yang menjadi inti perselisihan adalah hanya dalam hal penampakan permusuhan…” (Ad Durar hal 141 juz Al-Jihad)
Al ‘Allamah Asy Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab (penulis kitab Fathul Majid) berkata seputar ayat Al-Mumtahanah yang lalu: “Orang yang mentadabburi ayat-ayat ini, maka ia mengetahui tauhid yang dengannya Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya, serta ia mengetahui keadaan orang-orang yang menyelisihi para rasul dan para pengikut mereka, dari kalangan orang-orang jahil yang terpedaya serta paling rugi. Syaikh kami Al Imam rahimahullah – yaitu kakeknya: Muhammad Ibnu Abdil Wahhab – berkata dalam konteks penuturan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap Quraisy untuk bertauhid, serta apa yang muncul dari mereka saat beliau menyebutkan ilah-ilah mereka bahwa itu tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudlarat bagi mereka, sesungguhnya mereka menjadikan hal itu sebagai celaan”. Bila engkau mengetahui ini maka engkau mengetahui bahwa orang tidak tegak Islamnya meskipun ia mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi orang-orang musyrik(6) dan terang-terangan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, sebagaimana firman-Nya:

لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلاَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah,58:22)

Bila engkau memahami hal ini dengan pemahaman yang baik, maka engkau mengetahui bahwa banyak diantara orang yang mengaku Islam tidak mengetahuinya. Karena kalau bukan karena itu, maka apa yang mendorong kaum muslimin untuk sabar atas penindasan, ditawan dan hijrah ke Habsyah padahal beliau adalah orang yang paling sayang dan seandainya beliau mendapatkan bagi mereka rukhshah (keringanan) tentulah beliau memberikan rukhshah kepada mereka, bagaimana itu bisa ada sedangkan Allah telah menurunkan kepadanya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللهِ فَإِذَآ أُوذِيَ فِي اللهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللهِ وَلَئِن جَآءَ نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللهُ بِأَعْلَمَ بِمَافِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan diantara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menggaanggap fitnah manusia sebagai adzab Allah.Dan sungguh jika datang pertolongan dari Rabbmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia?” (QS. Al Ankabut,29: 10)

“Bila saja ayat ini berkenaan dengan orang yang setuju dengan lisannya, maka bagaimana dengan selain itu, yaitu orang yang menyetujui mereka dengan ucapan dan perbuatan tanpa ada penindasan, terus ia mendukung mereka, membantu mereka, dan membela-membela mereka dan orang yang setuju dengan mereka, serta mengingkari orang yang menyelisihi mereka sebagaimana itu realita yang terjadi”. (Ad Durar Juz Al Jihad hal: 93)
Dan saya katakan kepada mereka, benar sekali engkau seolah engkau berbicara di zaman kami ini.
Syaikh Muhammad Ibnu Abdullathif rh dalam Ad Durar As Saniyyah: ketahuilah - semoga Allah menunjukkan kami dan engkau pada apa yang Dia ridlai dan Dia cintai – sesungguhnya tidak tegak bagi seorang hamba Islam dan diennya kecuali dengan memusuhi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya(7)¬. Serta loyalitas kepada wali-wali Allah dan Rasul-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّخِذُوا ءَابَآءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَآءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى اْلإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu,jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa yang di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. At-Taubah, 9: 23)
(Juz Al jihad hal: 208)
Ini adalah dien semua para rasul, dan inilah dakwah dan jalan mereka sebagaimana yang ditunjukan oleh keumuman ayat ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan begitu juga Firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala dalam ayat Al Mumtahanah ini والذين معه (dan orang-orang yang bersamanya) adalah para Rasul yang di atas dien dan millahnya. Ini dikatakan oleh banyak ahli tafsir.
Syaikh Muhammad Ibnu Abdillathif Ibnu Abdurahman berkata: “Dan ini adalah idhharud dien, bukan sebagaimana yang diduga oleh orang-orang jahil yaitu bahwa bila ia dibiarkan oleh orang-orang kafir dan mereka tidak menghalanginya dari sholat, membaca Al-Qur’an serta sibuk melaksanakan hal-hal sunnat bahwa ia telah mengidharkan diennya. Ini adalah kesalahan yang fatal, karena sesungguhnya orang-orang yang terang-terangan mengatakan permusuhan terhadap kaum musyrikin dan bara’ah dari mereka, sungguh mereka (kaum musyrikin) tidak akan membiarkannya berada di tengah-tengah mereka, namun bisa jadi mereka itu membunuhnya dan mengusirnya bila mereka memiliki jalan ke arah sana, sebagaimana yang Allah sebutkan tentang orang-orang kafir, Dia berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُم مِّنْ أَرْضِنَآ أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Rabb mewahyukan kepada mereka. "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu” (QS. Ibrahim, 14: 13)

Dan Dia berfirman seraya mengabarkan tentang kaum Nabi Syu’aib :

قَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِن قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَكَ مِن قَرْيَتِنَآ أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ
Artinya: “Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami". Berkata Syu'aib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya". (QS. Al A’raf,7: 88)

Dan Dia menyebutkan tentang Ahlul Kahfi bahwa mereka berkata:

إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا
Artinya: “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya". (QS. Al Kahfi, 18: 20)

Dan dahsyatnya permusuhan antara para Rasul dengan kaumnya tidaklah terjadi kecuali setelah terang-terangan mencela dien mereka, membodoh-bodohkan ajaran mereka dan menghina tuhan-tuhan mereka.” (Ad Durar Juz Al Jihad hal 207)
Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata juga saat menjelaskan ayat Al Mumtahanah: “Inilah Millah Ibrahim yang Allah Firmankan tentangnya:

وَمَن يَرْغَبْ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي اْلأَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh. (QS. Al baqarah, 2:130)

Maka wajib atas orang-orang muslim untuk memusuhi musuh-musuh Allah, menampakkan permusuhan terhadap mereka, menjauh dari mereka, tidak loyal kepada mereka, tidak bermu’asyarah dengan mereka dan tidak berbaur dengan mereka.” (Juz Al Jihad 221 Ad Durar As Saniyyah)
Dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman mengabarkan tentang Ibrahim ‘Alaihis Salam dalam tempat lain:

قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ. أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ
Artinya: “Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?” (QS. Asy-Syu’ara, 26: 75-76)

Dan ditempat ketiga Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّأ تَعْبُدُونَ. إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهدِينِ
Artinya: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah tetapi (aku menyembah Rabb) Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". (QS. Az-Zukhruf, 43: 26-27)

Asy Syaikh Al ‘Allamah Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad ‘Ibnu Abdil Wahhab berkata: Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah memfardlukan bara’ah dari syirik dan kaum musyrikin, kafir terhadap mereka, memusuhi mereka, membenci mereka dan menjihadi mereka:

فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِىْ قِيْلَ لَهُمْ
“Namun orang-orang yang dholim merubah ucapan dengan selain apa yang dikatakan kepada mereka”.


فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَآءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
Artinya: “Lalu orang-orang yang mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik” (QS.Al Baqarah, 2: 59)

Mereka justeru loyal kepada orang-orang musyrik, membantunya, menopangnya, meminta bantuannya atas kaum mukminin, membenci kaum mukminin dan mencelanya karena sebab hal itu. Dan semua hal-hal ini membatalkan ke-Islaman sebagaimana yang ditujukan oleh Al-Kitab dan As Sunnah dalam banyak tempat.”
Ada syubhat yang dilontarkan oleh banyak orang-orang yang terlalu tergesa-gesa, yaitu ucapan mereka bahwa Millah Ibrahim ini adalah fase terakhir dari fase-fase dakwah yang didahului penyampaian dengan penuh hikmah dan jidal dengan cara yang lebih baik. Dan seorang dai kelak menerapkan Millah Ibrahim ini, yaitu berupa bara’ah dari musuh-musuh Allah dan ma’budat mereka, kufur terhadapnya serta menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, setelah kehabisan seluruh metode-metode dan hikmah.
Maka kami katakan dengan memohon taufiq Allah: Sesungguhnya ‘isykal ini hanyalah terjadi dengan sebab tidak jelasnya Millah Ibrahim pada diri orang-orang itu, dan dengan sebab percampuradukan antara metode mendakwahi orang-orang kafir di awal mula dakwah dengan metodenya terhadap orang-orang yang mu’anid (membangkang) di antara mereka, dan juga perbedaan antara hal itu semua dengan sikap orang muslim terhadap ma’budat, falsafah-falsafah dan undang-undang kuffar yang batil itu.
Millah Ibrahim yang mana ia adalah pemurnian ibadah kepada Allah saja dan kufur terhadap segala yang diibadahi selain-Nya tidak boleh diakhirkan atau ditangguhkan, akan tetapi seyogyanya tidak boleh dimulai kecuali dengannya, karena itu adalah yang dikandung oleh kalimat laa ilaaha illallah berupa penafian dan itsbat (penerapan), dan ia adalah inti dien, pusat roda putaran dalam dakwah para Nabi dan rasul. Dan agar segala ‘isykal lenyap dari dirimu, maka ada dua hal yang meski diketahui:
Pertama : Adalah bara’ah dari segala thaghut dari ilah-ilah yang diibadati selain Allah ‘Azza wa Jalla dan kufur terhadapnya. Maka hal ini tidak boleh diakhirkan dan ditangguhkan. Namun mesti ditampakkan dan dinyatakan terang-terangan di awal titik perjalanan (dakwah)
Kedua : Bara’ah dari orang-orangnya yaitu kaum musyrikin bila mereka bersikeras di atas kebatilannya. Dan inilah rinciannya :
Masalah pertama: Yaitu kufur terhadap thaghut-thaghut yang diibadati selain Allah ‘Azza wa Jalla…, sama saja baik thaghut-thaghut ini patung dari batu, matahari, bulan, kuburan, pohon atau hukum-hukum dan undang-undang buatan manusia, maka Millah Ibrahim dan dakwah para Nabi dan rasul mengharuskan penampakkan sikap kufur terhadap ma’budat ini semuanya dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadapnya, meremehkan kedudukannya, menjatuhkan status dan keberadaannya, serta menampakkan kepalsuan, kekurangan dan cacat-cacatnya diawal titik perjalanan (dakwah) dan inilah keadaan para Nabi diawal dakwah terhadap kaumnya, di mana mereka mengatakan:

اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya: “Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhi “thaghut” (QS. An Nahl, 16: 36)

Dan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala tentang Al Hanif Ibrahim AS.

قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُون َ. أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ .
Artinya: “Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?” (QS. Asy-Syu’ara, 26: 75-76)

Dan firman-Nya dalam surat Al-An’am:

فَلَمَّا رَءَا الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَآ أَكْبَرُ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَاقَوْمِ إِنِّي بَرِىءٌمِّمَّا تُشْرِكُونَ
Artinya: “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata: "Inilah Rabbku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al An’am, 6: 78)

قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُم بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدتُّمْ عَلَيْهِ ءَابَآءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَآأُرْسِلْتُم بِهِ كَافِرُونَ فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ. وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّأ تَعْبُدُونَ. إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهدِينِ

Artinya: “Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah Rabb) Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (QS. Az-Zukhruf, 43: 25-27)

قَالُوا مَن فَعَلَ هَذَا بِئَالِهَتِنَآ إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ * قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

Artinya: “Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang prmuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". (QS. Al Anbiya’, 21: 59-60)

Para ahli tafsir berkata: (يذكرهم) yaitu menghinanya, memperolok-olokannya dan mencelanya, Al Kitab dan As Sunnah sarat dengan dalil-dalil atas hal itu. Dan cukuplah bagi kita tuntunan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Mekkah, dan bagaiman beliau mencela tuhan-tuhan Quraisy dan menampakkan bara’ah darinya dan kufur terhadapnya sehingga mereka menggelarinya shabi’.
Dan bila engkau mau mengecek hal itu dan meyakinkan hal itu, maka silakan rujuk dan tadabburiy ayat-ayat Al Qur’an Al Makkiy yang baru saja turun beberapa ayat darinya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sehingga langsung menyebar ke timur, barat, utara, dan selatan serta pindah dari mulut ke mulut di pasar-pasar, di majelis-majelis dan di tempat-tempat pertemuan. Ayat-ayat tersebut mengkhitabi orang-orang Arab dengan bahasa Arab yang mereka pahami…, dengan jelas dan lantang menjelek-jelekkan tuhan-tuhan mereka dan yang terbesar adalah Latta, Uzza, dan Manat pada zaman itu. Ayat itu mengumumkan bara’ah darinya, keterputusan hubungan darinya atau keridlaan dengannya, dan Nabi SAW tidak pernah menyembunyikan sedikitpun darinya. Beliau hanyalah pemberi peringatan.
Orang-orang yang memposisikan dirinya untuk dakwah pada masa sekarang sangat membutuhkan untuk mentadabburi hal ini baik-baik, dan mengintrospeksi diri mereka atas hal tersebut, karena dakwah yang berupaya membela dienullah kemudian ternyata melempar jauh-jauh inti yang paling mendasar ini adalah tidak mungkin sesuai dengan metode para Nabi dan Rasul. Sekarang kita pada zaman ini menyaksikan merebaknya syirik tahakum (perujukan hukum) pada UUD dan undang-undang buatan di tengah-tengah kita, sehingga dakwah-dakwah ini mau tidak mau harus mencontoh Nabi kita dalam mengikuti Millah Ibrahim dengan cara menjelek-jelekan kedudukan UUD dan undang-undang buatan, menyebut keburukannya pada manusia, menampakkan kekafiran terhadapnya, menampakan dan mengumumkan permusuhan terhadapnya dan menjelaskan penipuan para pemerintah, serta pengkaburannya dihadapan manusia. Kalau tidak demikian maka kapan lagi kebenaran ini ditampakkan dan bagaimana manusia mengetahui dien mereka dengan benar dan bisa memilah kebenaran dari kebatilan serta musuh dari kawan. Mungkin saja mayoritas mereka berdalih dengan maslahat dakwah dan fitnah. Coba fitnah apa yang lebih besar dari penyembunyian tauhid dan pengkaburan dien ini di hadapan mereka. Maslahat apa yang lebih besar dari penegakan Millah Ibrahim dan penampakkan loyalitas terhadap dienullah serta (penampakkan) permusuhan terhadap para thaghut yang diibadati dan ditaati selain Allah.
Dan bila kaum muslimin tidak diuji karena hal itu dan bila pengorbanan tidak dipersembahkan di jalannya, maka karena apa ujian itu. Kufur terhadap thaghut-thaghut seluruhnya adalah wajib atas setiap orang muslim sebagai separuh syahadatul Islam dan mengumumkan hal itu, menampakkan serta mengidharkannya adalah kewajiban yang agung juga yang mesti digemborkan oleh jama’ah-jama’ah kaum muslimin atau satu kelompok dari setiap jama’ah mereka itu paling minimal. Sehingga itu terkenal dan tersebar serta menjadi syiar dan ciri khusus bagi dakwah-dakwah ini, sebagaimana keadaan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bukan pada zaman tamkin (jaya) saja namun pada masa istidlaf (ketertindasan) juga, sehingga menjadi buah bibir, ditahdzir dan dituduh memusuhi tuhan-tuhan itu dan yang lainnya.
Dan kami sangat heran, macam dakwah apa ini yang mana para du’atnya manangisi maslahatnya dan dien macam apa yang ingin mereka tegakkan serta tampakkan, sedangkan mayoritas mereka ini latah memuji undang-undang – ooh musibah besar – dan sebagian mereka memujinya, bersaksi atas kebersihannya, dan banyak dari mereka bersumpah untuk menghormatinya dan komitmen dengan poin-poin dan batasan-batasannya, kebalikan akan masalah yang seharusnya dan jalan sebenarnya. Seharusnya mereka itu menampakkan dan menyatakan permusuhan serta kufur terhadapnya, justeru mereka menampakkan loyalitas padanya dan ridla dengannya, maka apakah orang-orang seperti itu menebarkan tauhid atau menegakkan dien…?! Ilallahil Musytaka
Menampakkan dan menyatakan terang-terangan hal ini tidak ada kaitannya dengan pengkafiran hakim dan pengototannya untuk tetap berhukum dengan selain hukum Allah yang Maha Pengasih, karena ini berkaitan dengan UUD, hukum atau undang-undang yang berlaku dan dihormati yang diterapkan dan diagungkan serta dijadikan rujukan diantara manusia.
Masalah kedua: Yaitu bara’ah dari kaum musyrikin, kufur terhadap mereka, dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka itu. Al ‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Ighatsatul Lahafan: ”Dan tidak selamat dari kemusyrikan syirik akbar ini kecuali orang yang memurnikan tauhidnya terhadap Allah, memusuhi kaum musyrikin karena Allah serta mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mencela mereka.” Dan beliau menisbatkannya kepada Syaikhul Islam. Dan masalah ini – yaitu bara’ah dari kaum musyrikin – lebih penting dari yang pertama, yaitu bara’ah dari ma’budat mereka.
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rh. Berkata dalam “Sabilun Najah Wal Fikak” saat menjelaskan Firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah.” (Al Mumtahanah : 4). “Dan disini ada faidah yang sangat indah, yaitu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala mendahulukan bara’ah dari kaum musyrikin yang beribadah kepada selain Allah terhadap bara’ah dari berhala yang diibadati selain Allah, karena yang pertama lebih penting dari yang kedua. Sebab sesungguhnya dia bila Tabarra (berlepas diri) dari berhala dan tidak Tabarra dari yang mengibadatinya, maka dia tidak mendatangkan kewajiban dia. Adapun bila ia tabarra’ dari kaum musyrikin, maka ini memastikan bara’ah dari ma’budat mereka. Begitu juga Firman-Nya:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَاتَدْعُونَ مِن دُونِ اللهِ
Artinya: “Dan saya tinggalkan kalian dan apa yang kalian seru selain Allah.” (QS. Maryam, 19: 48)

Dia mendahulukan sikap meninggalkan mereka terhadap sikap meninggalkan apa yang mereka seru selain Allah.

Dan juga Firman-Nya:

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَايَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ
Artinya: “Maka tatkala dia menjauhi mereka dan apa yang mereka ibadati selain Allah” (QS. Maryam, 19: 49)

Dan Firman-Nya:
وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَايَعْبُدُونَ إِلاَّ اللهَ
Artinya: “Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadati selain Allah.” (QS. Al Kahfi, 18: 16).

Pahamilah faidah (rahasiah) ini, karena sesungguhnya ia membukakan bagimu pintu untuk memusuhi musuh-musuh Allah. Berapa banyak yang tidak pernah muncul kemusyrikan darinya, akan tetapi dia tidak memusuhi para pelakunya, maka dia tidak menjadi muslim dengan itu karena ia telah meninggalkan dien semua para rasul.”(8)
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman berkata dalam risalahnya yang ada dalam Ad Durar As Saniyyah: “Orang terkadang selamat dari syirik dan mencintai tauhid, tapi kekurangan muncul padanya dari sisi tidak bara’ah dari para pelaku syirik dan meninggalkan loyalitas pada ahli tauhid dan membela mereka, sehingga ia menjadi orang yang mengikuti hawa nafsu lagi masuk dalam syirik pada cabang-cabang yang merobohkan diennya dan (merobohkan) apa yang telah ia bangun, lagi meninggalkan dari tauhid ini inti-inti dari cabang-cabang yang mana tidak tegak bersamanya iman dia yang diridlainya, sehingga ia tidak mencintai dan tidak membenci karena Allah serta tidak memusuhi dan tidak loyalitas karena keagungan Dzat yng menciptakan dan menyempurnakannya. Dan semua ini di ambil dari syahadat Laa Ilaaha Illallah“. (Dari Juz Al Jihad: 681)
Beliau berkata lagi dalam risalah lain masih dalam kitab itu juga hal 842: “Dan bentuk taqarrub kepada Allah yang paling utama adalah mencela musuh-musuh-Nya yang musyrik, membenci mereka, memusuhi mereka dan menjihadinya. Dan dengan (sikap) ini si hamba selamat dari loyalitas terhadap mereka dengan meninggalkan kaum mukminin. Bila dia tidak melakukan hal itu, maka dia memiliki loyalitas terhadap mereka sesuai dengan kadar kewajiban yang dia tinggalkan itu, maka hati-hatilah dari apa yang bisa menghancurkan Islam dan mencabut akarnya”.
Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman berkata:
Siapa yang tidak memusuhi kaum musyrikin dan tidak…
Loyalitas dan tidak membenci serta tidak menjauhi…
Maka ia tidak berada di atas minhaj sunnah Ahmad…
Dan tidak berada di atas jalan yang lurus lagi jelas…
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: “Orang muslim harus terang-terangan menyatakan bahwa ia adalah bagian dari thaifah mukminah ini sehingga ia mengokohkannya dan thaifah itu kokoh dengannya serta membuat kaget para thaghut yang mana mereka belum mencapai puncak pada permusuhannya sehingga ia terang-terangan menyatakan terhadap mereka bahwa ia adalah bagian dari thaifah yang memerangi mereka.“ (Majmu’ah At Tauhid)
Syaikh Husein dan Syaikh Abdullah putra Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab ditanya tentang orang yang masuk dalam dien (tauhid) ini, dia mencintainya dan mencintai ahlinya, namun ia tidak memusuhi kaum musyrikin, atau ia itu memusuhinya namun tidak mengkafirkannya?, maka diantara jawaban mereka adalah: “Siapa yang menyatakan saya tidak memusuhi para pelaku syirik, atau ia memusuhinya namun tidak mengkafirkannya, maka dia bukan orang muslim, dan ia tergolong orang-orang yang telah Allah Firmankan tentang mereka:

وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً * أُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

Artinya: “Dengan mengatakan:”kami bariman kepada sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain).” Serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.“ (QS. An Nisa, 4: 150-151). (Ad Durar)(9)

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman berkata:
Musuhilah orang yang memusuhi dien Muhammad…
Loyalilah orang yang loyal padanya dari setiap orang yang dapat hidayah…
Cintailah karena dasar cinta pada Allah orang yang beriman…
Bencilah karena dasar benci karena Allah orang-orang yang membangkang…
Sebab dien itu tidak lain adalah cinta, benci dan loyalitas…
Begitu juga bara’ dari setiap orang binasa dan melampaui batas…
Dan beliau berkata juga :
Ya, andai kau jujur pada Allah dalam apa yang engkau klaim…
Tentulah engkau musuhi orang yang kafir terhadap Allah…
Dan engkau loyali ahlul haq secara rahasia dan terang-terangan…
Dan tentu engkau tidak serang mereka seraya membela kekafiran…
Tidak setiap seorang yang mengatakan apa yang engkau ucapkan itu muslim…
Namun dengan syarat-syarat yang disebutkan di sana…
Menyelisihi orang-orang kafir disetiap tempat…
Dengan inilah telah datang kepada kita nash shahih yang menyatakannya…
Mengkafirkan mereka terang-terangan dan menghina pola pikir mereka…
Dan menyesat-nyesatkan mereka tentang apa yang mereka lakukan dan tampakkan…
Engkau menyatakan ketauhidan di tengah-tengah mereka…
Dan menyeru mereka padanya dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan…
Inilah dien hanif dan petunjuk…
Serta Millah Ibrahim andai engkau merasakan…
Tentunya kami tidak mengatakan bahwa penampakkan bara’ah dan permusuhan ini mencakup termasuk bagi al mu’allaf quluubuhum atau orang-orang yang menampakkan penerimaan (akan tauhid) dan tidak menampakkan permusuhan akan dienullah, meskipun yang wajib adalah keberadaannya di dalam hati bagi setiap orang musyrik, sehingga membersihkan diri dari syiriknya, namun pembicaraan di atas adalah tentang penampakkan, i’lan, mujaharah dan pernyataan terang-terangan. Mereka dan bahkan orang-orang yang diktator (pembangkang) dan orang-orang yang dhalim diajak untuk taat kepada Allah dengan cara bijaksana dan wejangan yang baik di awal mulanya dakwah, kemudian bila mereka menerima maka mereka adalah saudara-saudara kami, kami mencintainya sesuai kadar ketaatan mereka, hak mereka sama dengan hak kami dan kewajiban mereka sama dengan kewajiban kami. Dan bila mereka menolak padahal hujjah telah jelas, mereka keras hati dan bersikukuh di atas keyakinan mereka yang batil dan syirik serta berdiri di barisan yang memusuhi dienullah, maka tidak ada mujamalah (basa - basi) dan mudahanah (sikap lembut) terhadap mereka, akan tetapi saat itu wajib menampakkan dan menyatakan terang-terangan bara’ah dari mereka. Dan mesti membedakan di sini antara keinginan kuat agar kaum musyrikin dan kafirin mendapatkan hidayah serta upaya mendapatkan pendukung bagi dien ini juga lembut dalam menyampaikan, bijaksana dan wejangan yang baik, (wajib) membedakannya dengan masalah cinta, benci, loyalitas dan permusuhan dalam dienullah, karena banyak dari manusia masih ngawur dalam hal itu, sehingga mereka mendapatkan kesulitan dalam memahami banyak nash, seperti: “Ya Allah beri petunjuk kaumku, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui”. Dan yang lainnya.
Ibrahim AS telah bara’ah dari keluarga terdekatnya tatkala jelas baginya bahwa ayahnya itu bersikukuh di atas syirik dan kekafirannya. Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ للهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ
Artinya: “Kemudian tatkala jelas baginya bahwa ia adalah musuh Allah, maka ia bara’ah darinya.” (QS. At Taubah, 8: 114)

Ini setelah beliau mengajaknya dengan penuh bijaksana dan wejangan yang baik, maka engkau bisa mendapatkannya mengkhitabi ayahnya dengan perkataannya.

يَآأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَآءَنِي مِنَ الْعِلْمِ
Artinya: “Wahai Bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu.” (QS. Maryam, 19: 43)

يَآأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَـنِ
Artinya: “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditempa adzab dari Tuhan yang maha pemurah.” (QS. Maryam, 19: 45)

Dan begitu juga Musa AS kepada Fir’aun setelah Allah mengutusnya kepadanya dan berfirman:

فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَ
Artinya: “Maka katakan kepadanya ungkapan yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha, 20: 44)

Ia memulainya dengan ungkapan yang lemah lembut terhadapnya dalam rangka memenuhi perintah Allah, dia berkata:

هَل لَّكَ إِلىَ أَن تَزَكَّى. وَأَهْدِيَكَ إِلىَ رَبِّكَ فَتَخْشَى
Artinya: “Adakah keinginan bagi dirimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan ku pimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya.” (QS. An Nazi’at, 79: 18-19).

Dan tatkala ia memperlihatkan kepadanya mukjizat-mukjizat yang besar dan tatkala Fir’aun menampakkan pendustaan, pembangkangan dan pengototan di atas kebatilan, maka Musa AS berkata kepadanya sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala:

لَقَدْ عَلِمْتَ مَآأَنزَلَ هَآؤُلآءِ إِلاَّ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لأَظُنُّكَ يَافِرْعَوْنُ مَثْبُورًا
Artinya: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti yang nyata dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun seorang yang yang akan binasa.” (QS. Al Isra’ 17: 102).

Bahkan dia berdo’a untuk membinasakan mereka:

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالاً فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَن سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وْاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَيُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوْا الْعَذَابَ اْلأَلِيمَ
Artinya: Musa berkat: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau, Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS.Yunus, 10: )

Orang-orang yang selalu mengembar-gemborkan nash-nash tentang lemah lembut dan kemudahan secara mutlak serta menempatkannya bukan pada tempat dan posisinya, seyogyanya bagi mereka untuk diam lama mentadabburi masalah ini, mempelajarinya dan memahaminya baik-baik bila memang mereka itu ikhlas.
Dan setelah itu hendaklah mereka mengetahui baik-baik bahwa orang yang diajak bicara dengan berbagai metode dan umumnya adalah tergolong metode lembut dan halus, baik lewat jalan risalah-risalah, buku-buku dan langsung berhadapan lewat perantaraan banyak para du’at serta dijelaskan kepadanya bahwa al hukmu bighairi ma anzalallah adalah kekafiran… dan dia tahu bahwa tidak boleh baginya berhukum dengan selain syari’at Allah, namun demikian dia tetap ngotot dan bersikukuh… meskipun pada dhahirnya pada banyak kesempatan dia menertawakan dagu-dagu orang miskin dengan janji-janjinya yang kosong lagi dusta dan ucapan-ucapannya yang di reka-reka serta dalih-dalih yang lemah lagi palsu… sedangkan lisan realitanya mendustakan ucapannya. Dan itu dengan cara pengakuannya serta diamnya dari merebaknya kekafiran dan kerusakan di tengah-tengah negeri dan masyarakat hari demi hari… pengekangannya terhadap para du’at dan kaum mukminin, sikap mempersulit terhadap orang-orang yang melakukan perbaikan dan pengintaiannya terhadap mereka dengan dinas intelejen dan aparat kepolisiannya… dan dalam waktu bersamaan pelapangannya bagi setiap orang yang memerangi dien Allah, memberikan kemudahan bagi sarana-sarana kerusakan dan pengrusakan untuk dikelola musuh-musuh Allah, bahkan mempersilakan sarana-sarana informasi bagi mereka, kerusakan mereka dan kekafiran mereka… serta menggulirkan undang-undang dan aturan-aturan yang memberikan sangsi bagi setiap orang yang menyerang “Yasiqnya” (undang-undangnya) Al Wadl’iy yang syirik, atau menyatakan kufur dan bara’ah darinya, atau menghinanya atau menjelaskan kebatilannya pada manusia… dan sikap bersikukuhnya untuk menjadikan undang-undang buatan (yasiq modern)nya sebagai pemutus diantara manusia dalam hal darah, harta dan kemaluan, padahal undang-undang itu penuh dengan kekafiran yang nyata…. Dan tidak berserah dirinya pada syari’at Allah serta tidak mau menjadikan sebagai rujukan padahal dia mengetahui akan wajibnya hal itu serta tuntutan kaum muslihin terhadapnya… maka orang seperti ini tidak boleh mudahanah (basa-basi) terhadapnya, muhadanah (berdamai) dengannya, mujamalah terhadapnya, mengagungkannya dengan gelar-gelar, mengucapkan selamat terhadapnya saat hari-hari raya dan munasabat atau menampakkan loyalitas terhadapnya atau pemerintahannya… Namun tidak boleh dikatakan kepadanya kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian, UUD kalian, undang-undang kalian yang syirik dan pemerintahan kalian yang kafir…. kami kafir terhadap kalian (kami kafirkan kalian)… dan tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala, menyerahkan diri dan tunduk kepada syari’at-Nya saja.”
Masuk dalam kategori ini juga pentahdziran (mengingatkan orang lain) untuk (tidak) loyal pada mereka, taat patuh kepada mereka, tentram dengan mereka, berjalan dalam alur mereka dan dari memperbanyak dari jumlah mereka dengan cara pekerjaan-pekerjaan yang membantu mereka untuk mengokohkan kebatilannya atau melanggengkan pemerintahannya dan menjaga atau menerapkan undang-undangnya yang batil seperti: tentara, polisi, intelejen dan yang lainnya.
Bila saja sikap-sikap salaf terhadap para penguasa zamannya – yang sama sekali tidak sah disamakan dengan ini dan yang semisal dengannya – adalah sikap-sikap yang tegas, jelas lagi bersih… mana hal itu bila dibandingkan dengan sikap-sikap banyak para tokoh dakwah pada zaman kita ini… padahal mereka itu masyhur dan disanjung oleh para pengikutnya… padahal para salaf itu tidak pernah alumni dari fakultas-fakultas ilmu-ilmu politik atau HAM, mereka tidak pernah membaca koran dan majalah-majalah yang kotor dengan dalih mempelajari tipu daya musuh…. Namun dengan demikian mereka itu lari dari penguasa dan pintu-pintunya sedangkan penguasa itu mencari mereka dan dengan harta dan yang lainnya. Adapun orang-orang yang mengaku salafiy sekarang dari kalangan yang mana dien mereka dipermainkan syaithan, mereka itu justeru mencari kebaikan dunia mereka dengan rusaknya dien mereka, mereka mendatangi dan mencari pintu-pintu penguasa sedangkan penguasa itu menghinakan mereka dan berpaling dari mereka.
Para salaf itu – semoga Allah meridlai mereka – melarang dari masuk pada penguasa yang dzalim, termasuk bagi orang yang ingin memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, karena khawatir terkena fitnah mereka sehingga ia bermudahanah atau bermujamalah terhadap mereka untuk memuliakan mereka atau diam membiarkan sebagian kebatilannya atau mengakuinya, dan para salaf memandang bahwa menjauh dari mereka dan meninggalkan mereka adalah bentuk bara’ah dan pengingkaran terbaik terhadap keadaan mereka…. Dan silakan dengarkan Sufyan Ats Tsauri saat ia menyurati ‘Abbad Ibnu ‘Abbad, beliau berkata dalam suratnya: “Hati-hatilah kamu mendekati penguasa atau bergaul dengan mereka dalam hal sekecil apapun, dan hati-hatilah dari dikatakan kepadamu jadilah perantara dan tolonglah orang-orang yang didhalimi atau permintaan hak dikembalikan, karena sesungguhnya hal itu adalah tipu daya iblis… dan itu hanyalah dijadikan tangga oleh para ahli baca Al-Qura’an (yang fajir)…“ (Dari Siyar A’lam An Nubalaa 13/586 dan Jami’ Bayan Al ‘Ilmi Wa Fadllihi 1/179)
Lihatlah Sufyan rahimahullah menamakan apa yang dinamakan maslahat dakwah oleh para du’at hari ini sebagai tipu daya (khadi’ah) Iblis… dan beliau tidak mengatakan pada pelakunya sebagaimana yang dilakukan oleh banyak du’at sekarang yang menyia-nyiakan umurnya dalam rangka mencari maslahat dakwah dan membela dien disamping musuh-musuh dien ini dan orang-orang yang memeranginya: ”Jangan (keluar) wahai akhi…!!! tetaplah keberadaanmu dan mendekatlah kepada mereka, siapa tahu kamu berhasil dapat jabatan atau kursi di kabinet atau DPR dan bisa jadi kamu memperkecil kedhaliman, atau engkau memberikan manfaat buat saudaramu, jangan biarkan jabatan ini buat orang-orang ahli maksiat dan orang-arang bejat nanti mereka memanfaatkannya… dan… dan…”, justeru Sufyan mensifati hal itu bahwa ia adalah tangga untuk dunia bagi para ahli baca AL-Qur’an yang bejat, bila ini di zaman beliau maka apa gerangan di zaman kita. Kita memohon ‘afiyah kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala, dan berlindung dari kejahatan orang-orang zaman sekarang dan kebusukan talbis-talbis mereka… dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala melimpahkan rahmat kepada orang-orang yang berkata:

Orang-orang yang kamu lihat mereka bergegas memenuhi panggilan majelis…
Di dalamnya terdapat kebinasaan dan setiap kekafiran yang dekat...
Bahkan di dalamnya ada undang-undang nasara sebagai acuan…
Tanpa ada nash yang terdapat dalam Al Qur’an…
Enyahlah kalian karena sebab gerombolan orang-orang yang telah merusak padanya. Cinta penyelisihan dan sogokan penguasa…

Syaikhul Islam Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah seringkali mengutip ucapan Sufyan Ats Tsauriy: “Siapa yang duduk pada ahli bid’ah maka ia tidak akan selamat dari salah satu yang tiga:”
● Bisa jadi ia menjadi fitnah bagi yang lain dengan sebab duduk bersamanya, sedangkan telah ada dalam hadits:

من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجرمن عمل بها بعده من غير أن يفقص من أجورهم شىء. ومن سن فى الأسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء. رواه مسلم.
“Siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam ini, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan siapa yang memberikan contoh yang buruk di dalam Islam ini, maka ia memikul dosanya dan dosa-dosa orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.” (HR. Muslim.)

● Bisa saja ada sedikit penganggapan baik di dalam hatinya, sehingga ia tergelicir dengannya kemudian Allah menjerumuskannya ke dalam api neraka dangan sebab itu.
● Bisa saja dia berkata: “Demi Allah saya tidak peduli dengan apa yang mereka katakan, dan sesungguhnya saya percaya dengan diri saya.”
Siapa orang yang merasa aman dari Allah sekejap saja atas diennya maka Allah mencabutnya dari dirinya.“ (Dari Ad Durar dan yang lainnya)
Bila saja ini adalah ungkapan mereka tentang majelis-majelis bid’ah padahal bid’ahnya tidak mukaffirah sebagaimana yang telah diketahui dalam banyak tempat dari ucapan mereka, maka apa gerangan dengan duduk-duduk bersama dengan kaum murtaddun dari kalangan budak-budak undang-undang dan kaum musyrikin lainnya.
Perhatikan ucapannya:”…sesungguhnya saya pecaya dengan diri saya…” dalam nomor ke tiga...!!!, berapa banyak orang yang jatuh dari kalangan du’at zaman kita dengan sebabnya dan dengan yang sepertinya… oleh sebab itu carilah selamat… carilah selamat.
Dan bagaimanapun sungguh Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah menggugurkan semua jalan-jalan yang bengkok ini yang mana para pelakunya menyampaikan pembelaan akan dien di baliknya, maka Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah menjelaskan bahwa tidak ada pembelaan yang diharapkan dan tidak ada maslahat diniyyah selama-lamanya dalam sikap taqarrub kepada manusia yang dholim, Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman dalam surat Hud yang membuat Nabi SAW beruban:

وَلاَتَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَالَكُم مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ

Artinya: “Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang dhalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud, 11: 113)

Maka dibalik mudahanah-mudahanah dan jalan-jalan yang timpang ini tidak ada pembelaan buat dien Allah dan tidak ada maslahat meskipun hal itu diduga oleh orang-orang yang menduga… kecuali bila sentuhan api neraka itu adalah maslahat dakwah bagi mereka. Maka sadarlah kamu dari tidur kamu, dan janganlah kamu terpedaya oleh setiap orang yang berceloteh dan berbicara.
Para ahli tafsir berkata tentang firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala. “ولاتركنوا” Ar Rukuun adalah kecenderungan yang sedikit.
Abul ‘Aaliyah berkata: “Janganlah kalian cenderung pada mereka dengan kecenderungan yang banyak dalam kecintaan dan perkataan yang lembut.”
Sufyan Ats Tsauriy berkata: “Atau mengambilkan kertas baginya, maka ia telah masuk dalam hal itu.”
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata: “Maka Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala mengancam dengan sentuhan api neraka orang yang cenderung kepada musuh-musuh-Nya dengan ucapan yang lemah lembut.”
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman - dan beliau tergolong Aimmah Dakwah Najdiyyah Salafiyyah - juga berkata setelah menuturkan sebagian perkataan al mufassirun yang lalu tentang makna cenderung. ”Itu dikarenakan dosa syirik adalah dosa terbesar yang dengannya Allah didurhakai dengan beragam tingkatannya, maka apa gerangan bila hal itu ditambah dengan apa yang lebih buruk, yaitu perolok-olokan terhadap ayat-ayat Allah, menggeser hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya, serta menamakan hukum yang menyelisihinya dengan keadilan, sedangkan Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin mengetahui bahwa itu adalah kekafiran, kejahilan dan kesesatan. Orang yang sedikit memiliki penjunjungan (pada dien) dan di hatinya ada sedikit kehidupan tentu dia cemburu terhadap Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya dan Dien-Nya, serta dahsyatlah pengingkaran dan bara’ahnya di setiap kesempatan dan majelis. Ini tergolong jihad yang mana menjihadi musuh tidak terealisasi kecuali dengannya. Maka pergunakanlah kesempatan idhhar dienullah, mudzakarah dengannya, mencela orang yang menyalahinya, bara’ah darinya dan dari para pelakunya. Perhatikanlah sarana-sarana yang menjerumuskan pada kerusakan terbesar ini dan perhatikanlah nash-nash syari’at yang menjelaskan sarana-sarana dan jalan-jalan (yang menghantarkannya), karena mayoritas manusia meskipun dia tabara’ darinya dan dari pelakunya namun ia adalah tentara bagi orang-orang yang loyal pada mereka, tenang dengan mereka dan tinggal dengan perlindungan mereka, Wallahul musta’an.“ (Ad Durar Juz Al Jihad hal 161). Sungguh indah sekali, seolah beliau berbicara tentang zaman kita.
Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah berkata; takutlah kepada Allah… takutlah kepada Allah… Wahai sudara-saudaraku, pegang teguhlah ashlu dien kalian, yang paling awal dan pangkalnya serta kepalanya, yaitu syahadat Laa Ilaha Illallaah, ketahuilah maknanya dan cintailah ia dan cintailah orang-orangnya serta jadikanlah mereka itu sebagai saudara-saudara kalian meskipun mereka jauh dari kalian secara keturunan. Dan kufurlah kepada para thaghut, musuhilah mereka, bencilah mereka dan bencilah orang yang mencintai mereka atau membela-membela mereka atau tidak mengkafirkan mereka atau mengatakan,”apa urusan saya dengan mereka” atau mengatakan, “ Allah tidak membebani saya untuk mengomentari mereka”, Sungguh orang ini telah berdusta dan mengada-ada atas nama Allah dengan dosa yang nyata, sungguh Allah telah mewajibkan setiap muslim untuk membenci orang-orang kafir, dan memfardlukan atasnya untuk memusuhi mereka, mengkafirkan mereka dan bara’ah dari mereka, meskipun mereka itu ayah-ayah mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka. Oleh sebab itu takutlah pada Allah… takutlah pada Allah… pegang teguhlah hal itu… mudah-mudahan kalian bertemu dengan Rabb kalian, seraya kalian tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (Dari Majmu’ah At Tauhid).

04 Februari 2008

Banjir Multi DImensi : Musibah atau Adzab ?



Derita bangsa Indonesia seakan tak pernah usai. Musibah demi musibah terus mengusik kedamaian negeri ini. Meski banyak retorika dibangun untuk mengatasi hal ini, namun, seringkali tidak dibarengi dengan tindakan dan kebijakan nyata. Akibatnya peningkatan bencana terus terjadi dari tahun ke tahun. Kita sebagai bangsa Indonesia tidak bisa lagi bangga dengan julukan Jamrud Khatulistiwa, karena pada kenyataannya, negeri kita adalah negeri sejuta bencana. Bencana struktural, bencana alam maupun bencana kemanusiaan terus terjadi. Fenomena banjir bandang dan tanah longsor adalah suatu fenomena alam yang jamak di muka bumi ini.

Kita sangat sedih bila melihat kondisi bangsa Indonesia yang terus dirundung bencana. Akan tetapi seharusnya kita lebih sedih ketika bangsa ini tidak mampu mengambil pelajaran dari rentetean musibah yang mendera. Tidak ada peristiwa yang terjadi di dunia ini tanpa ada makna yang menyertainya. Begitu juga banjir yang melanda kota Jakarta dan sekitarnya, meski menyisakan duka yang mendalam, namun dibalik musibah ini pasti terdapat hikmah yang pantas untuk dijadikan pelajaran. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan silih bergantinya malam dan siang sungguh terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah SWT) bagi orang yang berakal (QS. Ali Imran: 190)

Diantara hikmah yang bisa kita ambil dari musibah banjir tersebut adalah: pertama, banjir merupakan teguran bagi bangsa Indonesia agar segera bangun dari tidur dan mimpi mereka, sehingga mereka bisa melihat dengan jelas realitas kongkrit bahwa banyak hal yang harus diperbaiki, dirobah, atau bahkan dibongkar sama sekali dalam penyelenggaraan negara. Masih banyak ketimpangan yang belum tertutupi dalam perjalanan negeri ini. Kemaksiatan yang dilegalkan, tidak tegasnya pemerintah dalam menindak kejahatan, kasus korupsi yaang tak kunjung hilang adalah contoh dari ketimpangan yang masih lekat dalam kehidupan.

Allah SWT sudah memberikan peringatan, "Dan kalau mereka bersungguh-sungguh menegakkan (menjalankan perintah-perintah Allah dalam) Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka dari robb mereka (Al-Quran), niscaya mereka akan makan rezeki (yang mewah) dari atas mereka (langit) dan dari bawah kaki mereka (bumi). Di antara mereka ada sepuak yang adil dan kebanyakan dari mereka, buruk keji amal perbuatannya. (QS. Al Maidah: 66)

Kedua, banjir merupakan peringatan bagi masyarakat agar lebih kritis dan lebih dewasa dalam menyikapi setiap langkah pemerintah maupun pihak swasta. Karena pada kenyataanya masih banyak kebijakan yang merugikan negara tapi didukung rakyat, gara-gara ada keuntungan yang mereka dapat. Setelah banjir ini diharapkan rakyat mampu berpikir jauh kedepan, lebih mendahulukan kepentingan umat dari pada kesenangan pribadi yang hanya sebentar. Karena ketika musibah datang, maka semua orang akan merasakan akibatnya. "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah SWT amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal: 25)

Ketiga, banjir besar ini mengajarkan berbagai bentuk solidaritas yang harus lahir secara spontan di tengah kehidupan masyarakat. Kondisi persatuan bangsa kita masih rapuh. Semangat kedaerahan, kesukuan dan keberagamaan yang melampui batas masih nampak mewarnai kehidupan. Konflik Poso yang kembali memanas, Aksi Gerakan Aceh Merdeka di Serambi Mekah yang belum jelas penyelesainnya serta berbagai tindak perampokan, pemerkosaan dan penipuan masih berjalan. Tidaklah mungkin kehidupan berbangsa akan sejahtera bila semangat permusuhan belum bisa dihilangkan. "Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal:46)

Apakah musibah ini memang takdir Allah SWT, ataukah akibat kesalahan manusia? Apakah kita semua harus menerima dengan pasrah saja, terhadap musibah yang memakan begitu banyak korban, ataukah harus ikut berbuat sesuatu untuk mengatasinya? Lalu, kalau sudah begitu, apa sajakah kekurangan (kesalahan) yang telah terjadi, dan siapa pula yang harus bertanggungjawab? Banjir. Ya, isu yang paling “anyar” di negeri yang katanya “gemah ripah, loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo”. Akhirnya, opini menyebar di mana-mana: di internet, radio, tv, surat-surat kabar, bahkan dari mulut ke mulut. Semuanya membicarakan “banjir”.

Tanggapan untuk banjir pun beragam. Ada yang menyatakan bahwa itu “cobaan”, ada pula yang berpikiran bahwa itu adalah “musibah”. Hemat saya, bisa saja itu menjadi “persekot”, atau “ujian” --mungkin.

Jika itu cobaan, mungkin tepat bagi orang-orang beriman. Jika cobaan, mungkin kita selama ini kufur. Hutan yang tidak boleh ditebang, ditebangi secara diam-diam. Makanya ada istilah hutan gundul, he he. Di sekeliling hutan memang “super-lebat”, tapi di tengah-tengah hutan “botak”-nya gak karu-karuan. Luar biasa! Penebang liar memang tak kenal hukum alam, yang ada di kepalanya adalah “doku” alias duit. Mungkin alam mulai enggan, berdialog dengan manusia, karena manusia sudah terlalu keji.

Bisa jadi, banjir datang karena kita tidak lagi mengindahkan norma “kebersihan” yang diajarkan Nabi Muhammad SAW --bagi umat Islam. Seluruh umat Islam hafal bahwa “al-Nazhâfatu mina’l-Imân” (Kebersihan adalah sebagian dari iman). Tapi siapa sekarang yang perduli akan hal itu. Lihat lah got-got dan selokan-selokan di daerah yang ‘agak kekota-kotaan’. Semuanya mampat oleh sampah, baik plastik, kertas, maupun sampah yang lainnya. Tentu saja got marah, karena got bukan tempat sampah, melainkan untuk mengalirkan air. Apapun namanya, jika sudah tidak berjalan sesuai fungsinya, akan “error” bahkan “hancur”.

Akibat dari banjir pun bermacam-macam. Ada yang menjadi “tuna-wisma” --ini yang sudah pasti--, ada yang kena penyakit muntaber, ada yang kena diare, dan lain-lain. Bahkan menurut laporan Republika, kerugian yang ditimbulkan banjir ini mencapai 400 juta dollar AS (http://republika.co.id/Online_detail.asp?id=282553&kat_id=21). Luar biasa!

Anehnya, rakyat kita masih saja saling tuduh. Ada yang menuduh bahwa masyarakat tidak belajar dari banjir besar tahun 2002. Bisa jadi, kita kurang belajar. Tapi, saya yakin semuanya berpikiran bahwa tahun 2002 itu adalah akhir dari “banjir besar”. Kalau masyarakat tahu bahwa 2007 akan banjir, mungkin sudah pada “lari” pindah ke tempat lain.

Banjir Multi dimensi

Ini yang ingin saya sampikan. Kita bukan hanya banjir air. Indonesia punya multi-banjir yang harus benar-benar diantisipasi. Banjir kebudayaan asing. Indonesia Idol, mungkin salah satu produk budaya Barat yang sudah membudaya, bahkan menggurita. Banjir budaya Barat ini sangat mengerikan, jika dibiarkan. Lihatlah, Indonesia sudah biasa dengan kontes waria. Bisa jadi, tidak lama lagi, Indonesia akan mengesahkan pula perkawinan sesama jenis. Bukankah mahasiswa IAIN --yang notabene beragama Islam--telah melegalkan lewat buku “Indahnya Perkawinan Sesama Jenis”. Wwooow..rock bro!!!

Di kota-kota besar gaya hidup permissifisme sudah membanjir ‘kamar-kamar’ para mahasiswa. Budaya kumpul kebo, free-sex, hamil di luar nikah --yang semuanya budaya asing-- sudah biasa terjadi. Bahkan, kalau tidak begitu, tidak maju. Tuh...banjir dah. Belum lagi banjir “liberalisme”, “sekularisme”, “pluralisme”, dan “isme-isme” yang lain membanjiri otak-otak para remaja. Kalau tidak liberal tidak keren, kalau belum sekular belum beken, bahkan kalau tidak plural tidak modern. Wah-wah, apa-apaan ini.

Akh...saya juga tidak ingin komentar panjang-panjang. Takut dikira menuduh juga. Padahal ia, sudah menuduh sejak awal. Kata orang tua, “Ambil hikmahnya saja.” Benar. Mari kira raup hikmah banjir ini. Yups. Tapi apa ia “liberalisme”, “sekularisme”, dan “pluralisme” dibiarkan. Jangan atuh. Hikmah apa yang bakal diambil dari “isme-isme” asing dan destruktif itu. Hukz...Hati-hati, “Sedia payung sebelum hujan yuk!” (Abbas el-Akkad, 14 Februari 2007).





24 November 2007

Tegak dalam Kebenaran

Ketika pertama kali Rasulullah memperkenalkan ajaran tauhid kepada kaumnya, reaksi yang muncul sangat negatif. Mereka menertawakan ajaran yang dianggap aneh itu, dan mencap pembawanya sebagai orang yang gila atau kerasukan syetan.

Kenyataan itu dihadapi Rasulullah dengan penuh kesabaran, sehingga satu-persatu kaumnya memeluk ajaran Islam. Pada mulanya ditertawakan, lalu dibenci dan dimusuhi. Kaum muslimin mendapat serangan bertubi-tubi, hingga mengharuskan mereka mencari tempat yang lebih aman untuk menjalankan keyakinannya.

Hijrah pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya ke Madinah membawa berkah tersendiri. Dalam waktu yang relatif pendek Islam tersebar ke mana-mana. Pengikutnya semakin banyak. Apalagi setelah Makkah berhasil ditaklukkan, maka Islam menjadi sangat dominan.

Setelah Rasulullah mangkat, penerusnya tidak kalah progresif dalam menyebarkan syi'ar Islam. Satu dua negara ditaklukkan, sampai pada akhirnya Islam tidak saja dianut oleh penduduk jazirah Arab, tapi menyentuh batas-batas Afrika, Asia dan Eropa. Di masa khalifah Umar bin Khaththab, Islam bahkan sudah menyeberang benua.

Pada saat Islam sudah menjadi mayoritas, salah seorang pemuda Arab berdo'a dengan amat khusyu'nya. Umar yang saat itu dekat dengan pemuda tadi tertarik mendengarkannya. Betapa terkejutnya Umar mendengar isi doa pemuda tersebut, "Ya Allah! Jadikanlah aku termasuk golongan orang yang sedikit."

Dalam keheranannya, Umar bertanya, "Wahai anak muda! Mengapa engkau berdo'a untuk dimasukkan dalam golongan orang yang sedikit? Bukankah semua orang menghendaki supaya termasuk golongan yang terbanyak, sebab umumnya golongan terbanyak itu mempunyai kedudukan yang lebih berarti?"

Pemuda tersebut menjawab, "Bukankah tuan pernah membaca firman Allah dalam al-Qur'an, 'Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur kepada-Ku' (Saba': 13)?"

Saat ini jumlah ummat Islam dunia telah mencapai satu miliar lebih, atau seperlima dari penduduk dunia. Kita berharap agar jumlah ummat Islam terus membengkak, terutama di negara-negara kaum muslimin saat ini masih minoritas.

Permohonan pemuda di atas untuk menjadi golongan sedikit tidak ada kaitannya dengan usaha penyebaran ajaran Islam. Dakwah harus tetap jalan. Penambahan jumlah penganut Islam harus diupayakan terus. Akan tetapi peningkatan kualitas ummat tidak boleh diabaikan. Peningkatan kuantitas harus diimbangi oleh peningkatan kualitas.

Adalah suatu kenyataan bila orang-orang yang berkualitas itu jumlahnya selalu sedikit. Ada semacam piramida, di mana lapisan bawah selalu lebih besar dan lebih banyak, sedangkan yang berada di atas selalu mengerucut. Jumlahnya sedikit.

Gambaran itu terjadi di lapangan politik, ekonomi, juga agama. Sebagian besar penganut agama adalah golongan awam. Hanya sedikit yang benar-benar menjalankannya dengan penuh kesadaran. Dalam konteks inilah pemuda di atas berdo'a, memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam kelompok yang sedikit.

Dalam kitab Durratun Nasihin, Utsman al-Khaibawi penulisnya mengutip dialog Rasulullah dengan para sahabatnya. Rasulullah bersabda, "Akan datang kepada manusia suatu masa yang di saat itu sunnahku menjadi rusak sebagaimana rusaknya pakaian pada badan dan timbullah bid'ah. Pada waktu itu, barangsiapa yang mengikuti sunnahku akan dianggap aneh dan menjadi sindiran. Dan barangsiapa yang mengikuti bid'ahnya manusia (kebanyakan) dia akan mendapatkan lima puluh kawan atau lebih."

Mereka (para sahabat Nabi) bertanya, "Apakah mereka melihat engkau, wahai Rasulullah?"
Nabi menjawab, "Tidak.""Apakah wahyu juga turun kepada mereka?" Nabi menjawab, "Tidak.""Bagaimana mereka nanti?" tanya sahabat lagi. Jawab Nabi, "Seperti garam dalam air, ati mereka leleh bagai garam yang larut dalam air."
Sahabat menyambung, "Bagaimana mereka hidup di masa itu?"
Nabi menjawab, "Seperti ulat di dalam cuka."
Sahabat bertanya kembali, "Bagaimana mereka menjaga agamanya?"
Nabi menjawab, "Seperti bara di dalam tangan. Jika diletakkan, bara itu mati. Bila digenggam, akan membakar tangan."

Dalam ajaran Islam, kebenaran itu bukan diukur dari banyaknya pendukung. Biarpun seluruh penduduk bumi menyatakan benar atas perkara yang salah menurut ketentuan Allah, maka perkara itu tetap salah.

Kebenaran tak bisa diubah, sekalipun melalui referendum. Aborsi misalnya, selamanya tetap haram sekalipun semua ahli hukum dan aktivis Hak Asasi membolehkannya. Membunuh manusia, baik yang masih berupa janin maupun yang sudah lahir, dalam keadaan sakit ataupun sehat adalah perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan.

Pergaulan bebas, semisal pacaran, sekalipun dilakukan hampir semua pemuda, tetaplah diharamkan. Suatu yang lazim di masyarakat belum tentu benar. Demikian pula tidak semua orang yang mengikuti sesuatu yang sudah lazim berarti normal. Bahkan terkadang orang asing, yang tidak berbuat dan bersikap sebagaimana orang kebanyakan, justru mereka yang benar.

Terdengar aneh jika ada pemuda di zaman sekarang yang tidak berpacaran. Pemuda demikian bisa jadi tersingkir dari pergaulan umum. Ia dicibirkan, dianggap aneh, malah justru bisa dianggap tidak normal.

Kepada pemuda aneh ini, Rasulullah memberi janji perlindungan di saat tidak ada lagi perlindungan selain dari pertiolongan Allah. Mereka adalah pemuda yang di saat diiming-imingi oleh wanita cantik untuk diajak berbuat mesum, kemudian ia menolak dengan ucapan, "Saya takut kepada Allah."

Ketika Nabi Yusuf diajak berbuat mesum oleh Zulaikha, yang pada waktu itu masih berstatus sebagai istri kaisar, ia menolaknya dengan ucapan yang sama. Kala itu bukan berarti Nabi Yusuf tidak tertarik kepada wanita cantik tersebut. Sebagai lelaki normal ia sangat tertarik, akan tetapi imannya lebih kuat dari tarikan syahwatnya. Ia selamat dari godaan nafsunya.

Satu contoh lagi, korupsi. Di saat sekarang banyak pejabat yang tidak malu mendemonstrasikan hasil jarahannya. Disebut hasil jarahan karena pada hakekatnya mereka telah mengambil hak orang lain dengan cara menyalahgunakan kekuasaannya. Pada hakekatnya mereka adalah pencuri, meskipun dalam kenyataannya mereka dihormati.

Bila dalam suatu masyarakat atau lingkungan sudah berjangkit penyakit korupsi dan kolusi, maka semua orang yang berada dalam lingkaannya mau tidak mau, rela atau terpaksa akan mengikuti pola yang sama. Orang-orang yang tidak mau mengikutinya, tentu akan ditolak oleh lingkungannya. Mereka dianggap orang aneh, bahkan dianggap mengganggu saja.

Dalam siatuasi seperti ini, kebanyakan orang mencari selamatnya saja. Artinya mereka tidak mau berbeda dengan lingkungan yang sudah sakit tersebut. Mereka ikut larut dalam aturan main yang dibikinnya sendiri. Orang yang baik-baik pada mulanya bisa berubah menjadi ikut-ikutan korupsi dan kolusi.

Pada saat semua orang mengatakan 'ya', lalau ada seorang atau sekelompok yang berani berkata "tidak", maka nereka akan dicap sebagai golongan aneh. Mereka adalah golongan sedikit yang akan mendapatkan jaminan dari Allah swt. Mereka adalah orang-orang yang tidak merasa takut pada saat semua orang ketakutan. Mereka tidak susah pada saat semua orang kesusahan. Rasulullah bersabda:

"Di antara hamba-hamba Allah, ada orang-orang yang disenangi para nabi dan syuhada. Ditanya, 'Siapakah mereka, ya Rasulullah, mudah-mudahan kami juga mencintai mereka.' Rasululah bersabda, 'Mereka adalah segolongan manusia yang berkasih-sayang karena Allah, bukan karena harta atau keturunan. Wajah-wajah mereka berupa nur di atas menara-menara cahaya. Mereka tidak takut di kala manusia takut, dan tidak susah di saat manusia susah.'" (HR Ibnu Jurair dari Abu Hurairah)

Golongan sedikit ini akan tetap eksis dalam segala situasi. Mereka tidak terpengaruh oleh perubahan sistem politik. Siapapun yang memerintah negara, apapun sistem yang diberlakukannya, mereka tetap dengan prinsipnya, yaitu cinta dan benci karena Allah. Karenanya mereka tetap tegak membela agama Islam. Amar ma'ruf dan nahi munkar tetap dilakukan kepada pemerintah yang baik maupun yang jahat. Allah telah menghilangkan rasa takut menghadapi siapa saja.

Inilah segolongan orang yang disebut dalam hadits Rasulullah, "Mereka tidak dapat disusahkan oleh orang-orang yang menghinakannya, sehingga datang pertolongan Allah, padahal mereka dalam keadaan demikian." (HR. Muslim) Golongan ini memiliki sikap yang istiqamah, konsisiten dan konsekuen. Jika hari ini mengambil sikap kritis kepada kezhaliman, maka selamanya sikap itu dibawa dan diperjuangkan. Sikap itu tidak saja ditujukan kepada suatu rejim tertentu, tapi kepada semua rejim yang berkuasa. Mereka tidak mengambil keuntungan dari perjuangannya. Mereka tulus mengabdikan perjuangannya semata-mata untuk mencari ridha dari Allah swt. Jabatan bukan lagi menjadi incaran, harta benda bukan menjadi tujuan. Mereka cukupkan diri dengan pemberian Tuhan.

Sekali lagi, jumlah mereka ini sangat terbatas. Akan tetapi karena sikapnya yang kritis dan istiqamah dalam menyuarakan kebenaran, maka keberadaannya sangat diperhitungkan. Mereka bukanlah buih yang mudah diombang-ambingkan situasi. Bahkan merekalah yang menciptakan situasi. Mereka adalah subyek, penentu keadaan. Semoga kita termasuk di antaranya.

"Jika ada seribu orang yang menegakkan kebenaran, satu di antaranya adalah aku;
Jika ada seratus orang yang menagkkan kebenaran, satu di antranya adalah aku;
Jika ada sepuluh orang yang menegakkan kebenaran, satu diantaranya adalah aku;
Jika ada satu orang yag menegakkan kebenaran, maka itulah aku."

 

Agenda Islam Liberal

Oleh Abu Hamzah Agus Hasan Bashari

Pendahuluan

Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah ta'ala kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (QS. 48: 28)

Sebagai rahmat bagi semesta alam

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS 21:107)

Dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah ta'ala:

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (QS 3:19)

Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ja termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) dan yang keluar atau menyimpang darinya maka ja termasuk firqaih-firqah yang halikah (kelompok yang binasa).

Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda. Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik Barat” Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio - Kultural dan Politik Masyarakat. (Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn IX/81).

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bcrtemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haqq tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalab bathil karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad shallallahu 'alaihi wasllam, akan tetapi yang mereka suarakan adalah bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Maka dalam makalah ini akan kita uraikan sanad (asal usul) firqah liberal (kelompok Islam Liberal atau Kelompok kajian utan kayu), visi, misi agenda dan bahaya mereka.

Sanad (asal-usul) Firqah Liberal

Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Qur’an dan sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan pcnduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.

Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani (Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam. (Charless Kurzman: xx-xxiii)

Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-18%) yang membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ja membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh (1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad n adalah Pelopor Agung Rasionalisme. (William Montgomery Waft: 132).

Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq (1888-1966). Lalu yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatatan bahwa yang dikehendaki oleh al-Qur’an hanyalah system demokrasi tidak yang lain.(Charless: xxi,l8).

Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis, ia menggagas tafsir al-quran model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya Ia ingin menelaah Islam berdasarkan ilmu

-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar Islam. (Mu’adz, Muhammad Arkoun Anggitan tentang cara-cara tafsir al-Qur’an, Jurnal Salam vol.3 No. 1/2000 hal 100-111; Abd. Rahman al-Zunaidi: 180; Willian M Watt: 143).

Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan al-Qur’an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju oleh al-Qur’an adalah ideal moralnya karena itu ia yang lebih pantas untuk diterapkan. (Fazhul Rahman: 21; William M. Watt: 142-143).

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahid dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton, Sabili no. 15: 88). Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah rnenyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama” (Nurcholis Madjid: 239)

Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menghasung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok dengan pikirannya.

Demikian sanad Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William Montgomery Watt, Chanless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis Ia’natullah ‘alaih. (Ali Ibn Abi aI-’Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”. Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar what The Caesar’s and to the God what the God’s (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada Tuhan). (Muhammad Imarah: 45) Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang membidani lahirnya peradaban barat”

Sedangkan paham pluralisme yang mereka agungkan bersambung sanadnya kepada lbn Arabi (468-543 H) yang merekomendasikan keimanan Fir’aun dan mengunggulkannya atas nabi Musa 'alaihis salam (Muhammad Fahd Syaqfah: 229-230)

Misi Firqah Liberal

Misi Firqah Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya: rnenghancurkan) gerakan islam fundamentalis (www.islamlib.com). mereka menulis: “sudah tentu, jika tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang militan itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok- kelompok agama yang ada. Sebut saja antara Islam dan Kristen. Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.”

Yang dimaksud dengan Islam Fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal adalah orang yang memiliki lima ciri-ciri; yaitu (1) mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat, (2) mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan membangkitkan kembali masa lalu itu (3) mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam (4) mereka yang mempropagandakan bahwa islam adalah agama dan negara, (5) mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa depan.

Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon (Muhammad Imarah : 75)

Agenda dan Gagasan Firqah Liberal

Dalam tulisan berjudul “Empat Agenda islam Yang Membebaskan; Luthfi Asy Syaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal.

Pertama, agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia, sistem kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja.

Kedua, mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di negeri-negeri Islam.

Ketiga, emansipasi wanita dan

Keempat kebebasan berpendapat (secara mutlak).

Sementara dari sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah (1) pentingnya konstekstualisasi ijtihad (2) komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan (3) penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama (4) permisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara (lihat Greg Bertan, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka Antara Paramadina 1999: XXI)

Bahaya Firqah Liberal

1) Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah k , tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan pan Thaghut lainnya.

2) Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar keimanan karena itu mereka benci kepada kata-kata jihad, sunnah, salaf dan lain-lainnya dan mereka rela menyebut Islamnya dengan Islam Liberal. Allah k berfirman:

"Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman". (QS. Al-Hujurat 11)

3) Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur’an dan meragukan kemudian menolak sebagian yang lain, supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiyah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri al-Qur’an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal

Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam kitabnya al-Tafsir al-Ashri 1i al

Qur’an menafsiri ayat ( -Faq tho 'u aidiyahumaa- ) dengan “maka putuslah usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan mencukupi kebutuhannya.” (Syeikh Mansyhur Hasan Salman, di Surabaya, Senin 4 Muharram 1423).

Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah mengapa rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Yang paling saya khawatirkan atas adaalah orang munafik yang pandai bicara. Dia membantah dengan Al-Qur’an."

Orang-orang yang seperti inilah yang merusak agama ini. Bagi mereka pemahaman yang hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normatif agama serta pada bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal adalah kurang memadai dan agama ini akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif (Syamsul Arifin; Menakar Otentitas Islam LiberaL .Jawa Pos 1-2-2002). Mereka lupa bahwa sikap seperti inilah yang diancam oleh Allah:

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali." (QS. An-Nisaa’ 115).

4) Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku sebagai “pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis. Allah berfirman:

Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi," mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman," mereka menjawab, "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman." Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah 11-13).

5) Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L. Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-negara Islam tampil seperti Turki.

6) Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti memecah belah.

7) Mereka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup.

8) Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas sehingga gagasannya terkesan “asbun” dan asal “comot” Lihat saja buku Charless Kurzman, Rasyid Ridha yang salafi (revivalis) itupun dimasukkan kedalam kelompok liberal, begitu pula Muhammad Nashir (tokoh Masyumi) dan Yusuf Qardhawi (tokoh Ihwan al-Muslimin). Bahayanya adalah mereka tidak bisa diam, padahal diam mereka adalab emas, memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang mukmin.

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah ia diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

(Lihat Husain al-Uwaisyah: 9 dan seterusnya).

Ahlul batil selalu menghimpun kekuatan untuk memusuhi ahlul haq. Allah ta'ala berfirman:

"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (QS. Al-Anfaal 73).

Sementara itu Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak memiliki aqidah yang mapan. (lihat Bahaya Islam Liberal: 40, 64-65)

Maraji’: As Sunnah 04/VI/1423/2002