18 Februari 2010

Pedoman Pernikahan dalam Islam


Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalah pun, dalam kehidupan ini, yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satu pun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam. Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara banyak. Dari mulai bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup, hingga bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya. Begitu pula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam mengajarkannya.

Nikah merupakan jalan yang paling bermanfa’at dan paling afdhal dalam upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan, karena dengan nikah inilah seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas kendala-kendalanya. Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia, demi mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari persilangan syar’i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan keturunan, hingga dengan perannya kemakmuran bumi ini menjadi semakin semarak. Melalui risalah singkat ini. Anda diajak untuk bisa mempelajari dan menyelami tata cara perkawinan Islam yang begitu agung nan penuh nuansa. Anda akan diajak untuk meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu yang penuh dengan upacara-upacara dan adat istiadat yang berkepanjangan dan melelahkan. Mestikah kita bergelimang dengan kesombongan dan kedurhakaan hanya lantaran sebuah pernikahan ..? Na’udzu billahi min dzalik.

( Baca Selengkapnya )

Menyoal Nikah Siri Menurut Syari'at Islam


Keinginan pemerintah untuk memberikan fatwa hukum yang tegas terhadap pernikahan siri, kini telah dituangkan dalam rancangan undang-undang tentang perkawinan. Sebagaimana penjelasan Nasarudin Umar, Direktur Bimas Islam Depag, RUU ini akan memperketat pernikahan siri, kawin kontrak, dan poligami. Berkenaan dengan nikah siri, dalam RUU yang baru sampai di meja Setneg, pernikahan siri dianggap perbuatan ilegal, sehingga pelakunya akan dipidanakan dengan sanksi penjara maksimal 3 bulan dan denda 5 juta rupiah. Tidak hanya itu saja, sanksi juga berlaku bagi pihak yang mengawinkan atau yang dikawinkan secara nikah siri, poligami, maupun nikah kontrak. Setiap penghulu yang menikahkan seseorang yang bermasalah, misalnya masih terikat dalam perkawinan sebelumnya, akan dikenai sanksi pidana 1 tahun penjara. Pegawai Kantor Urusan Agama yang menikahkan mempelai tanpa syarat lengkap juga diancam denda Rp 6 juta dan 1 tahun penjara.

Sebagian orang juga berpendapat bahwa orang yang melakukan pernikahan siri, maka suami isteri tersebut tidak memiliki hubungan pewarisan. Artinya, jika suami meninggal dunia, maka isteri atau anak-anak keturunannya tidak memiliki hak untuk mewarisi harta suaminya. Ketentuan ini juga berlaku jika isteri yang meninggal dunia. Lalu, bagaimana pandangan Islam terhadap nikah siri? Bolehkah orang yang melakukan nikah siri dipidanakan? Benarkah orang yang melakukan pernikahan siri tidak memiliki hubungan pewarisan?

( Baca Selengkapnya )

13 Februari 2010

Kejahatan Korupsi Menurut Syariat Islam



Peluang melakukan korupsi ada di setiap tempat, pekerjaan ataupun tugas, terutama yang diistilahkan dengan tempat-tempat “basah”. Untuk itu, setiap muslim harus selalu berhati-hati, manakala mendapatkan tugas-tugas. Harta hasil korupsi (Ghulul) adalah harta yang diperoleh oleh pejabat (pemerintah atau swasta) melalui kecurangan atau tidak syar’i, baik yang diambil harta negara maupun masyarakat. Firman Allah subhanahu wa ta'ala: "Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya." (QS Al Imran ayat 161)

Rasulullah sollallohu 'alaihi wasallam melaknat penyuap, penerima suap dan orang yang menyaksikan penyuapan (HR Imam Ahmad).

Dengan demikian dapat dipahami bahwa jika seseorang untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan telah dibayar maka apapun selain itu bukan menjadi haknya dan haram mengambilnya. Begitu juga, jika dia memanfaatkan harta perusahaan atau negara untuk kepentingan pribadinya, dalam hal ini ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya secara bathil dan haram hukumnya. Misal, seorang karyawan menerima souvenir sebuah pulpen, parcel diakhir tahun, amplop yang berisi uang atau uang komisi yang biasanya langsung ditransfer, mengambil harta perusahaan/negara, melakukan mark-up suatu transaksi, dan lain-lain.
"Siapa saja yang kami beri tugas melakukan sesuatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rizki (gaji) maka yang diambil olehnya selain itu adalah kecurangan"(HR Abu Dawud).

( Baca Selengkapnya )

Peringatan bagi para Ahli Ilmu



Orang-orang berilmu sebenarnya dipilih Allah. Karena Dialah sumber ilmu: al-‘alim, al-‘allam. Dengan ilmu itu Allah menginginkan pemiliknya menjadi orang-orang yang terangkat derajatnya (Qs. Al-Mujadilah: 11). Namun jika disalahgunakan, ilmu pun menjadi malapetaka. Karena yang lahir adalah “pelacuran” intelektualitas. Dan Bal’am adalah contohnya. Di mana, pada zaman diutusnya Rasulullah saja, kerusakan ilmu dan “pelacuran” intelektual sudah ada. Kejahilan ilmu dan “pelacuran intelektual” seperti Bal’am diibaratkan oleh Allah seperti “anjing”. Kenapa harus anjing? Karena anjing itu bermental penjilat dan pragmatis. Jika dihalau, anjing akan menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan dia akan tetap menjulurkannya lidahnya. Mental penjilat dan pribadi pragmatis –dalam keilmuan—dimana pun sama. Mereka adalah penjilat dan penjual kebenaran, melacurkan ilmu pengetahuan dan intelektualitas mereka. Bagaimana tidak? Dia sudah mengetahui kebenaran yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Pemahaman terhadap Alkitab (Al-Quran) dia jual ayat itu dengan harga yang sangat murah.

Bukan sedikit, ilmuwan agama (Islam) saat ini menukar ilmu dengan sekeping dollar yang jelas-jelang efeknya untuk menghancurkan Islam. Dia jual ayat Allah subhanahu wa ta’ala, hadits Nabi shollalohu ‘alaihi wasallam. dan pendapat ulama Islam demi interest pribadi, kelompok dan golongan. Bahkan tidak segan-segan memutar-balikkan fakta. Kata Imam ‘Ali karrama Allah wajhah, “Kalimat haqqin yuradu biha bathil”

Al-Quran sangat keras dan mengecam tipe makhluk seperti ini. “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” [QS. Al-A’raf [7]: 175-176].

( Baca Selengkapnya )

12 Februari 2010

Pencaci Islam Akhirnya Memeluk Islam


Seorang politikus Swiss, Daniel Streich yang terkenal sangat menentang dan membeci Islam, bahkan dirinya adalah salah satu yang mengusulkan aturan pelarangan membangun Mesjid di daratan Switzerland, kini memeluk keyakinan yang pernah ia caci maki.

Daniel Streich pernah menjadi anggota Partai Swiss People Party (SVP) di Switzerland. Streich juga pernah sangat gencar menyerukan pelarangan pembangunan menara (mesjid) di Switzerland. Ia aktif dalam organisasi anti-Islam di Switzerland. Hal inilah yang membawa dirinya berada dipuncak karir sebagai petinggi militer Swiss.

Streich meninggalkan SVP pada November 2009 silam dan mengatakan bahwa partai tersebut adalah partai yang memerangi Islam. Saat ini partai yang mengkampanyekan pelarangan menara tengah melakukan pemungutan suara, Streich mengatakan situasi tersebut tidak dapat ditahan olehnya.

Streich mengatakan, "Inisiatif ini benar-benar membuatku terpukul. Aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku menerapkan profesionalisme selama lebih dari 30 tahun untuk sistem politik ini. Sangat tidak layak, Switzerland memerangi Muslim untuk menjalankan keyakinan mereka."

Streich adalah instruktur militer dalam militer Swiss dan selalu memerintahkan bawahannya untuk membaca Bible serta mendatangi gereja secara rutin.

Streich mulai mempelajari Al-Qur'an dan Islam disaat dirinya gencar memerintahkan untuk memerangi Muslim menjalani keyakinannya. Seiring berjalannya waktu, apa yang ia pelajari membawa perubahan besar dalam kehidupannya.

"Islam memberikan jawaban logis untuk pertanyaan terpenting dalam hidup, yang tidak pernah saya temukan saat menjadi Kristiani," ujar Streich. Ia kini menjadi seorang Muslim yang selalu mendatangi Mesjid, membaca dan mempelajari Qur'an, sholat lima waktu setiap harinya.

Kini ia berjuang habis-habisan untuk melawan pelarangan menara dan ia berharap dapat membangun lima mesjid di Switzerland yang terindah di Eropa.

Polisi Arab Saudi Sita Pernak-pernik Valentine


RIYADH--Aparat keamanan di Arab Saudi tak menghendaki warganya merayakan Valentine karena dinyatakan tidak sesuai ajaran Islam. Sebagai bagian dari upaya tersebut, kemarin polisi setempat merazia semua toko yang menjual pernak-pernik Valentine yang dominan warna merah. Dalam razia itu mereka menyita bunga-bunga mawar merah, tanda hati yang dibungkus kertas merah, dan meminta pemilik toko untuk tidak lagi menjualnya.

Seorang petugas kepolisian yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa di hari-hari biasa, produk seperti itu tidak masalah untuk dijual. Namun untuk menghindari berlangsungnya perayaan Valentine, saat ini, barang-barang tersebut tidak boleh diperdagangkan. Akibat razia itu, sebagian besar toko di Riyadh pun tak lagi menjual pernak-pernik Valentine.

Saat menjalankan razia, para polisi memang menyatakan bakal bertindak tegas terhadap semua pedagang yang tidak mematuhinya. "Siapapun yang melanggar bakal disanksi," kata sumber itu. Kegiatan seperti ini dijalankan rutin setiap tahun oleh polisi Arab Saudi saat menjelang jatuhnya hari Valentine.

Berbeda dengan Riyadh, toko-toko di Kairo, ibukota Mesir terlihat bebas menjual pernak-pernik Valentine. Hal serupa juga terlihat di Dubai. Hotel-hotel mewah di Dubai pun dipenuhi ornamen berwarna merah dan menyiapkan paket-paket khusus menyambut hari Valentine.

18 November 2008

Refleksi Ibadah Haji




Perjalanan haji merupakan simbol perjalanan panjang hidup seorang hamba menuju Allah SWT, di dalamnya terdapat banyak simbol-simbol tantang makna kehidupan sebagai hamba Allah.
Setiap tamu Allah diminta untuk membiasakan dan selalu mengucapkan kalimat talbiyah. Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik, La Shareek Laka, Labbaik. Innal Hamdah, Wan Nematah, Laka wal Mulk, La Shareek Laka Labbaik
“Aku datang memenuhi panggilan Mu Ya Allah , aku datang memenuhi panggilan Mu , aku datang memenuhi panggilan Mu tidak ada sekutu bagiMu, aku datang memenuhi panggilan Mu ”.

Ketika kalimat ini diucapkan seorang tamu Allah, sebenarnya ia sedang mengingatkan dirinya akan niat hidupnya di dunia. Hidup ini harus selalu dilandasi niat memenuhi panggilan Ilahi Rabbi, sebagaimana dalam melaksanakan ibadah haji niat kita harus dilandasi motivasi memenuhi panggilan Allah semata, bukan mengejar gelar haji, atau berdagang apalagi bertamasya. Begitu juga hendaknya niat hidup kita di dunia hanya demi menggapai ridho Ilahi. Bukan untuk mengejar kekayaan, pangkat, kekuasaan, atau popularitas.
Kalimat talbiyah memastikan kelurusan niat dalam menapaki segala langkah hidup di dunia. Inilah makna firman Allah SWT :
“Maka bersegeralah menuju Allah.” (QS Adz-dzaariyaat ayat 50)

( Baca Selengkapnya )

11 November 2008

Sa'ad bin Abi Waqqos rodliallahu 'anhu


Di zaman Rasulullah tersebutlah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang bernama Saad bin Abi Waqqash. Suatu hari pemuda itu berkata, "Pada suatu malam, di tahun ini, saya bermimpi seolah-olah tenggelam di dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ketika saya terbenam di dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada cahaya bulan yang menerangiku. Saya kemudian mengikuti arah cahaya itu dan saya dapati di sana ada sekelompok manusia, di antara mereka terdapat Zaid bin Haritsash, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shidiq. Saya bertanya, "Sejak kapan kalian ada di sini?" Mereka menjawab, "Satu jam."

Manakala siang telah muncul, saya mendengar suara dakwah Muhammad saw. kepada Islam. Saya meyakini bahwa saya sekarang berada di dalam kegelapan dan dakwah Muhammad saw. adalah cahaya itu. Maka, saya pun mendatangi Muhammad dan aku dapati orang-orang yang kujumpai dalam mimpi, ada di samping beliau. Maka, aku pun masuk Islam.

Tatkala ibu Sa'ad mengetahui hal ini, dia mogok makan dan minum, padahal Sa'ad sangat berbakti kepadanya sehinga dia merayunya setiap waktu mengharapkannya untuk mau makan walau hanya sedikit, tapi ibunya menolak. Manakala Sa'ad melihat ibunya tetap teguh berpendirian, dia berkata kepadanya, "Wahai ibu! Sesungguhnya saya sangat cinta kepadamu, namun saya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, seadainya engkau mempunyai seratus nyawa lalu keluar dari dirimu satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini demi apapun juga."

( Baca Selengkapnya )

Keutamaan Mengingat Mati



Semua orang takut mati, tetapi ada yang berlebihan sekali, ada pula yang takutnya itu sedikit saja, bahkan ada yang tak takut sama sekali, malah berani dan ingin mati. Ketakutan terhadap mati adalah karena dua hal :-

Karena kurang atau tidak adanya pengetahuan tentang mati, keadaan mati dan keadaan selepas mati adalah gelap. Semua orang takut menempuh tempat yang gelap dan tidak diketahui.
Karena doa dan kesalahan yang sudah bertumpuk dan tidak bertaubat, sehingga mendengar kata mati sudah terbayang azab dan siksa yang diperolehinya, akibat dosa dan kesalahan tadi.
Agama Islam melarang orang ingin cepat mati, agar dapat hidup melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Dan kalau ingin hidup lama adalah dengan tujuan agar dapat semakin banyak melakukan kebaikan, bukan pula untuk dapat lebih banyak menumpuk kenikmatan harta dan kekayaan serta keturunan.

Ada beberapa petunjuk Rasullullah s.a.w. untuk selalu zikrul maut (ingat akan mati) ini, antara lain :-

1. Perintah memperbanyak mengingati mati :
"Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan dan menjadikannya segala macam kelazatan (kematian)." ( Riwayat At-Turmudzi )

2. Kematian sebagai penasihat pada diri sendiri :
"Cukuplah kematian itu sebagai penasihat." ( Riwayat Ath-Thabrani dan Baihaqy )

3. Orang yang berilmu ialah orang yang banyak mengingati mati :
"Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya uantuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia dan akhirat." ( Riwayat Ibnu Majah dan Abiddunya )

( Baca Selengkapnya )

08 November 2008

Hafizh Qur'an yang Buta dapat Haji Gratis



Republik, Sabtu, 08 November 2008 pukul 11:14:00

Muhammad Hafidz (20) tetap optimistis bakal menjadi haji mabrur usai menunaikan ibadah haji 1429 H meski menyadari dirinya hanya seorang tunanetra dan pasti menghadapi tantangan yang lebih berat.

"Yang penting ada yang menuntun saya," kata Hafidz yang sudah buta sejak lahir merujuk pada ibunya Halimah (55) yang juga berhaji bersamanya dan diharapkan bersedia menuntunnya.

Jemaah calon haji dari Kloter I JKG ini bersama ibunya memperoleh hadiah menunaikan ibadah haji dari seorang Hamba Allah yang terkagum-kagum padanya dan ibunya yang hafal Al Quran (hafidz Qur`an).

"Saya menghafalkan Qur`an dengan mendengarkan kaset," kata Hafidz yang kegiatan sehari-harinya hanya mengaji dan tidak pernah bersekolah itu.

Hafidz yang kala itu memakai baju koko putih, celana putih dan peci serta duduk di kursi roda itu mengaku juga buta huruf latin, bahkan huruf Braille pun masih baru mulai belajar dan menghapal huruf bertitik-titik dari A sampai Z.

Bungsu dari tujuh bersaudara yang hidup bersahaja di kawasan Kampung Ambon, Rawamangun itu mengaku bahagia dan berterima kasih pada seorang Hamba Allah yang baik hati membiayai dia dan ibunya berangkat ke tanah suci.

"Saya sangat bahagia, meski saya tak bisa melihat saya juga ingin berhaji," katanya di depan ibunya yang juga mengenakan pakaian putih-putih dan tampak terharu.


05 November 2008

Jalan Golongan yang Selamat



Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. (Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam Neraka).”HR. Nasa’i dan At-Tirmi-dzi, ia berkata hadits hasan shahih).

Dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tem-patnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-jama’ah.” (HR. Ahmad dan yang lain. Al-Hafidh menggolongkannya hadits hasan)

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.” (HR. At-Tirmidzi, dan di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219)

Ibnu Mas’ud meriwayatkan:
“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya ter-dapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau mem-baca firman Allah, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153) (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)

(  Baca Selengkapnya )

Islam Sebagai Penyeimbang



Akhir-akhir ini seperti sudah menjadi keharusan opini di berbagai media massa, bahwa di zaman globalisasi, corak keberislaman yang ‘baik’ adalah menjadi Muslim yang moderat, artinya bukan menjadi Muslim yang liberal atau yang radikal (fundamental). Istilah “moderat” ini dimunculkan dan dipopulerkan oleh berbagai kalangan, baik cendekiawan, kepala Negara/pemerintahan Muslim, atau tokoh-tokoh agama. Apakah sebenarnya makna “Islam moderat”, yang kadang-kadang disamakan dengan istilah “ummatan wasatha”?

Selama ummat ini masih menempuh shiratal mustaqim, jalan yang lurus, selama itu pula mereka akan tetap menjadi ummat jalan tengah.” Dengan posisi sebagai ummatan wasathan itu, maka umat Islam akan menjadi saksi atas umat yang lain. Kata Hamka: “Umat Muhammad menjadi ummat tengah dan menjadi saksi untuk ummat yang lain, dan Nabi Muhammad saw menjadi saksi pula atas ummatnya itu, adakah mereka jalankan pula tugas yang berat tetapi suci ini dengan baik?” Itulah makna “ummatan wasathan”, umat pertengahan, umat yang adil, umat yang menjadi saksi atas ummat yang lain, dengan menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia. Dengan pandangan dan sikap ‘wasatha’, setiap Muslim dilarang melakukan tindakan ‘tatharruf’ atau ekstrim dalam menjalankan ajaran agama. Umat Islam merupakan umat penyeimbang dari umat umat-umat agama lain. Umat Islam mampu menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, tidak terlalu materialis duniawi, seperti kaum Yahudi atau meninggalkan kehidupan dunia seperti berbagai pemeluk agama lainnya. Umat Islam menyeimbangkan antara aspek jasmani dan ruhani. Itulah makna umat wasathan, umat pertengahan.

( Baca Selengkapnya )

26 Oktober 2008

Imam Ahmad: Pokok-pokok As Sunnah


Akhir-akhir ini karena gencarnya dakwah yang dilakukan oleh Ahlul bi’dah dan makar yang dilakukan oleh orang-orang yang memusuhi Islam, mengakibatkan umat Islam banyak yang tidak mengetahui pokok-pokok agama mereka. Oleh sebab itu kami merasa terpanggil untuk menjelaskan aqidah Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) kepada masyarakat luas agar mereka bisa mempelajari dan mengamalkannya.
Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata :"Pokok-pokok Sunnah (Islam) disisi kami adalah :
- Berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh para shahabat serta bertauladan kepada mereka, meninggalkan perbuatan bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat, serta meninggalkan perdebatan dalam masalah agama
- Sunnah menafsirkan Al Qur’an dan Sunnah menjadi dalil-dalil (sebagai petunjuk dalam memahami) Al Qur’an, tidak ada qiyas dalam masalah agama, tidak boleh dibuat pemisalan
– pemisalan bagi Sunnah, dan tidak boleh dapat dipahami dengan akal dan hawa nafsu, kewajiban kita hanyalah mengikuti Sunnah serta meninggalkan akal dan hawa nafsu.

Setan: Musuh orang Beriman



Dalam Al Qur'an, setan adalah nama umum untuk seluruh makhluk yang berusaha keras menyesatkan manusia hingga Hari Pembalasan nanti. Iblis adalah setan pertama yang membangkang kepada Allah ketika Dia menciptakan Adam. Allah telah memperingatkan manusia agar tidak tergoda oleh setan, sebagai mana dia telah berhasil memperdayakan kedua orang tua manusia yang pertama, Adam dan Hawa 'alaihimas salam.


Allah SWT berfirman: ”Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tak beriman. (QS. Al-A'raf: 27)

Oleh karena itulah dengan rahmat-Nya, Allah memerintahkan manusia untuk menjadikan setan sebagai musuhnya, karena memang hakikatnya setan adalah musuh nyata manusia. Dia berfirman, yang artinya, Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Fathir: 6). Sedangkan tindakan seseorang terhadap musuhnya telah jelas, yaitu berusaha dengan segenap kemampuan agar segala keburukan menimpa musuhnya dan segala kebaikan terlepas darinya.

Imam Ibnul Qayim rahimahullah mengomentari ayat di atas dengan perkataan, Perintah Allah untuk menjadikan setan sebagai musuh ini sebagai peringatan, agar (manusia) mengerahkan segala kemampuan untuk memerangi dan melawan setan. Sehingga setan itu seolah-olah musuh yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah lalai

Memang setan merupakan musuh yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah lalai. Bahkan selalu menyertai dan menghadang manusia di atas setiap jalan kebaikan. Karena memang pada setiap diri manusia itu ada setan dari kalangan jin yang berusaha menyesatkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: „Tidaklah seorangpun di antara kamu kecuali disertakan padanya jin yang selalu menyertainya“. Para sahabat bertanya, "Kepada Anda juga wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Juga kepada saya, tetapi Allah membantuku melawannya, sehingga dia masuk Islam. Maka dia tidak memerintahkanku kecuali dengan kebaikan.

( Baca Selengkapnya )

Membangun Generasi Robbani



Pergantian generasi merupakan sunnatullah yang pasti akan terjadi pada suatu kaum atau bangsa. Apakah pergantian itu lebih baik atau lebih buruk dari generasi sebelumnya tergantung pada kesungguhan dalam mempersiapkan pengkaderan generasi yang akan datang. Jika dipersiapkan dengan baik dan sungguh-sungguh insya Allah akan menghasilkan suatu generasi yang lebih baik. Begitu pula sebaliknya jika asal-asalan akan menghasilkan suatu generasi yang lebih buruk dari generasi pendahulunya.

Jika kita perhatikan kondisi pada akhir-akhir ini, jelas terlihat adanya gejala demoralisasi di masyarakat. Kejahatan dan kekerasan hampir menjadi konsumsi kita setiap hari di surat kabar dan televisi. Perzinahan, aborsi dan kasus kecanduan narkoba menduduki peringkat tertinggi yang terjadi pada generasi muda. Selain itu arus informasi yang masuk hampir tanpa batas, seperti mode/gaya hidup orang barat, telah diadopsi tanpa filter (saringan) dan dijadikan sebagai suatu kebiasaan dan kebanggaan.

Fenomena ini hendaknya dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita. Apakah selama ini kita menjaga diri, keluarga dan masyarakat di sekitar kita agar tidak terkena dampak demoralisasi. Ataukah selama ini kita lupa dan melalaikannya. Padahal Allah dengan jelas memberikan perintah kepada kita dalam firmanNya, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”. (At-Tahrim: 6).

Kita harus mewaspadai gejala ini, sebab jika tidak, akan menimbulkan preseden buruk bagi generasi yang akan datang. Kita bisa membayangkan seperti apa jadinya generasi yang akan datang jika generasi sekarang seperti ini. Dan inilah yang Allah gambarkan sebagai generasi yang buruk, suatu generasi yang akan membawa pada kehancuran dan kesesatan. Allah berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (Maryam: 56). Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa ada dua karakter utama dari generasi yang buruk yaitu adla’ush-shalah (menyia-nyiakan shalat) dan ‘wattaba’usy-syahwat (memperturutkan hawa nafsu).

( Baca Selengkapnya )

18 Oktober 2008

Sejarah Perang Badar



Perang Badar yang meletus antar kaum muslimin dan orang-orang musyrik dipicu oleh beberapa sebab, di antaranya adalah:

1. Pengusiran Kaum Muslimin dari Kota Makkah Serta Perampasan Harta Benda Mereka
2. Penindasan Terhadap Umat Islam Hingga Kota Madinah
3. Memberi Pelajaran Kepada Quraisy dan Mengembalikan Harta Benda Milik Umat Islam

Pasukan kaum muslimin di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. berjumlah 313 orang. Bersama mereka terdapat 2 ekor kuda, satu milik Zubair bin ‘Awwam ra dan seekor lainnya milik Miqdad bin ‘Amr ra, serta 70 unta yang mereka tunggangi secara bergantian. Rasulullah saw. mempercayakan panji berwarna putih kepada Mush’ab bin ‘Umair ra. Sementara di hadapan beliau sendiri terdapat dua buah bendera. Di sebelah kanan beliau terdapat Zubair bin ‘Awwam ra dan di sebelah kiri terdapat Miqdad bin Al-Aswad ra, serta di belakangnya terdapat Qais bin Abi Sha’sha’ah ra.

Pasukan musyrikin berhasil memobilisasi 950 orang yang kebanyakan mereka berasal dari Quraisy. Bersama mereka terdapat 200 ekor kuda dan unta dalam jumlah yang sangat banyak sekali untuk mereka tunggangi sekaligus membawa perbekalan dan makanan mereka selama di perjalanan. Orang-orang musyrikin tidak memiliki seorang pemimpin umum. Hanya saja di antara mereka terdapat dua orang terpandang, yaitu ‘Utbah bin Rabi’ah dan Abu Jahal beserta sekian orang pemuka Quraisy lainnya.

Tidak diragukan lagi bahwa pertempuran antara pasukan muslimin dan musyrikin akan menjadi sebuah pertempuran yang sangat dahsyat. Karena orang-orang Quraiys dengan kesombongannya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membinasakan Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya sehingga hukum paganisme menjadi satu-satunya aturan hukum yang berlaku.

Namun demikian, Allah swt. menginginkan agar kekuatan kaum muslimin, yang telah dibangun di Kota Madinah dan dilatih sedemikian rupa sehingga berhasil melahirkan pasukan-pasukan yang kokoh, mampu mengepakkan debu di medan perang, setelah selama lima belas tahun berada di bawah tekanan penindasan dan kelaliman serta membela akidah dan dakwah yang mereka bawa. Oleh karenanya, terlihat kemudian bahwa pertemuan antara keduanya benar-benar akan menyisakan kepahitan dan keperihan yang teramat sangat. Namun di balik semua ini, Allah swt. ingin menghancurkan kekuatan pendukung kebatilan dan meninggikan kebenaran dan para pembelanya

( Baca Selengkapnya )


13 Oktober 2008

Me-realisasi-kan kalimat Tauhid





Tauhid merupakan kewajiban pertama yang Allah wajibkan kepada umat manusia, dan sebaliknya larangan pertama yang Allah larang kepada mereka adalah syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah :

يَأيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِه مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 21-22)

Allah tidaklah mewajibkan suatu perkara, melainkan pasti padanya terdapat keutamaan-keutamaan yang sangat mulia. Begitu pula dengan “Tauhid” yang merupakan paling wajibnya perkara dari perkara-perkara yang paling wajib, pasti mempunyai berbagai keutamaan.


Orang yang benar-benar merealisasikan tauhid akan masuk jannah (surga) tanpa hisab
Ketika para shahabat bertanya-tanya tentang 70.000 orang dari umat Muhammad yang masuk jannah tanpa hisab dan tanpa adzab, maka Rasulullah saw bersabda :


هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَكْتَوُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ( رواه الترمذي )

“… mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay dan tidak mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya dan mereka bertawakkal hanya kepada Allah.” (H.R. At Tirmidzi)

Orang yang tauhidnya benar dijanjikan akan masuk jannah, sebagaimana sabda Rasulullah saw:


مَنْ لَقِيَ اللهَ لاَ يُشْرِكُ بِه شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ ( رواه مسلم )

“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu (apapun), niscaya dia akan masuk jannah.” (H.R. Muslim)Adapun masuknya orang yang tidak berbuat syirik ke dalam jannah maka itu hal yang pasti. Akan tetapi jika dia bukan pelaku dosa besar yang terus dilakukan sampai meninggal dunia maka dia akan langsung masuk jannah. Sedangkan jika dia pelaku dosa besar hingga akhir hayatnya dan belum bertaubat maka yang demikian di bawah kehendak Allah . Jika Allah mengampuni, maka akan masuk jannah secara langsung tanpa diadzab. Dan jika tidak diampuni, maka akan diadzab terlebih dahulu kemudian dikeluarkan dari naar (neraka) dan dimasukkan ke dalam jannah (surga). (Fathul Majid hal. 84).


05 Oktober 2008

Monorel Arafah Mina Beroperasi Musim Haji 1430 H



Arab Saudi selalu menjadi tujuan umat Islam setiap tahunnya. Untuk meningkatkan pelayanan pada umat, Kerajaan Arab Saudi membuat mega proyek salah satunya monorel Arafah-Mina.

Deputi Kementerian Urusan Tatanan Kota Arab Saudi Habib Zainal Abidin, proyek baru itu ditargetkan dapat beroperasi pada musim haji 1430 H atau 2009.

"Proyek pembangunan kereta monorel Arafah-Mina akan dimulai dua minggu ke depan. Dan akan selesai selama 10 bulan," katanya seperti dilansir media setempat, Senin (5/10/2008).

Monorel yang akan dibangun itu direncanakan memiliki ketinggian 8 meter hingga 10 meter. Dengan begitu, kelancaran arus lalu lintas dan pejalan kaki yang 'penuh' di Mina tidak akan terganggu.

"Monorail itu akan mengangkut 500 ribu jamaah haji di Arafah, Mina, dan Muzdalifah dan sekitar 25 ribu bus angkutan yang dilarang masuk kawasan Mina dengan adanya kereta monorel akan berhenti," ujar Zainal Abidin.

Proyek ini, lanjut Zainal Abidin akan dibagi tiga tahap. Jalur Arafah, Muzdalifah, dan Mina melalui road dua menyambung ke Jembatan King Abdul Aziz. Dan tahap kedua, 4 jalur akan melayani Arafah, Muzdalifah dan Mina. Sementara itu tahap ketiga, akan menyambungkan antara Arafah, Mina dengan Masjidil Haram.

Sementara Menteri Haji Kerajaan Arab Saudi, Fuad Al Farisi mengatakan, proyek kereta monorel segera dilaksanakan di Arafah, Mina, dan nantinya akan dibangun jalur kereta api yang menyambungkan antara kota Makkah, Madinah dan Jeddah sebagai tahapan proyek berikutnya.(ken/ken)

03 Oktober 2008

Jamarat Mina Tampung 300 Ribu Jamaah Perjam


Meski suasana hari raya Idul Fitri 1429 H masih terasa, perhatian Kerajaan Arab Saudi mulai memfokuskan persiapan pelayanan dhuyufurrahman musim haji tahun 1429 H yang waktunya tinggal sebulan lagi. Pelontaran Jamarat Mina dikebut penyelesaiannya untuk menampung 300 ribu jamaah haji perjam.

Sekjen Pengembangan Kota Makkah Al Mukarramah, Madinah Al Munawarah dan Masyair Muqaddasah (Arafah Mina ), DR Habib Zainal Abidin mengatakan, proses pembangunan pelontaran jamarat sedang dikebut.

“Daya tampung pelontaran jamarat tahun ini mencapai 300 ribu jamaah haji perjam sebagai tambahan daya tampung 60 ribu dari musim haji sebelumnya, saat ini tengah penyempurnaan pembangunan lantai tiga," ujar Zainal seperti dilansir harian Al Madinah, Jum’at (3/10/2008)

Sesuai perintah Raja Abdullah bin Abdul Aziz kaitannya dengan penyelesaian proyek pelontaran jamarat, diharapkan lokasi Kantor Gubernuran Mekah yang berlokasi di Mina yang menjadi jalur akses menuju lantai empat pelontaran supaya ditertibkan dan dibongkar.

“Kantor Gubernuran Mekah terletak di Rabwah Khadarim di Mina saat ini tengah ditertibkan dan dibongkar untuk menyambung jalur akses menuju lantai empat pelontaran jamarat,” tegas Habib Zainal Abidin.

Penyelesaian pembangunan untuk lantai empat pelontaran jamarat belum dapat diselesaikan sampai musim haji tahun 1429 H ini. “Penyelesaian lantai empat ditangguhkan sampai musim haji tahun berikutnya (1430 H),” pungkasnya.(Detik: anw/anw)

Puasa di bulan Syawwal




Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa-puasa sunnah. Sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, …” (Hadits hasan shohih, riwayat Tirmidzi). Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhori : 6502).

Puasa seperti setahun penuh

Salah satu puasa yang dianjurkan/disunnahkan setelah berpuasa di bulan Romadhon adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164). Dari Tsauban, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil). Imam Nawawirohimahulloh mengatakan dalam Syarh Shohih Muslim 8/138, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya yaitu puasa enam hari di bulan Syawal adalah suatu hal yang dianjurkan.”

Dilakukan setelah Iedul Fithri

Puasa Syawal dilakukan setelah Iedul Fthri, tidak boleh dilakukan di hari raya Iedul Fithri. Hal ini berdasarkan larangan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallamyang diriwayatkan dari Umar bin Khothob, beliau berkata, “Ini adalah dua hari raya yang Rosululloh melarang berpuasa di hari tersebut : hari raya Iedul Fithri setelah kalian berpuasa dan hari lainnya tatkala kalian makan daging korban kalian (Iedul Adha)”. (Muttafaq ‘alaih)

Apakah harus berurutan ?

Imam Nawawi rohimahulloh menjawab dalam Syarh Shohih Muslim 8/328 : “Afdholnya (lebih utama) adalah berpuasa enam hari berturut-turut langsung setelah Iedul Fithri. Namun jika ada orang yang berpuasa Syawal dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, maka dia masih mendapatkan keuatamaan puasa Syawal berdasarkan konteks hadits ini”.

Inilah pendapat yang benar. Jadi, boleh berpuasa secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, di tengah, maupun di akhir bulan Syawal. Sekalipun yang lebih utama adalah bersegera melakukannya berdasarkan dalil-dalil yang berisi tentang anjuran bersegera dalam beramal sholih. Sebagaimana Allah berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Al Maidah : 48). Dan juga dalam hadits tersebut terdapat lafadz ba’da fithri (setelah hari raya Iedul Fithri), yang menunjukkanselang waktu yang tidak lama.

Mendahulukan puasa qodho’

Apabila seseorang mempunyai tanggungan puasa (qodho’) sedangkan ia ingin berpuasa Syawal juga, manakah yang didahulukan? Pendapat yang benar adalah mendahulukan puasa qodho’. Sebab mendahulukan sesuatu yang wajib daripada sunnah itu lebih melepaskan diri dari beban kewajiban. Ibnu Rojabrohimahulloh berkata dalam Lathiiful Ma’arif, “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Romadhon, hendaklah ia mendahulukan qodho’nya terlebih dahulu karena hal tersebut lebih melepaskan dirinya dari beban kewajiban dan hal itu (qodho’) lebih baik daripada puasa sunnah Syawal”. Pendapat ini juga disetujui oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Mumthi’. Pendapat ini sesuai dengan makna eksplisit hadits Abu Ayyub di atas.

Semoga kebahagiaan selalu mengiringi orang-orang yang menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Wallohu a’lam bish showab.[Abu Isma’il Muhammad Abduh Tuasikal]